Catatan Diskusi Buku “The Mushroom at the End of the World”

Jamur matsusake punya fungsi sosial dan politik di dalam masyarakat Jepang yang berbeda dengan fungsi ekonomis di Amerika.

SYAIFUL ANAM

Buku The Mushroom at the End of the World (selanjutnya “Mushroom”) ditulis oleh Anna Lowenhaupt Tsing seorang antropolog dari Universitas California di Santa Cruz (UCSC), AS. Dalam buku itu, Tsing mengulas tentang jamur matsusake yang tumbuh dan berkembang di tempat atau ruang ekologis yang hancur. Jamur matsusake menjadi komoditas penting di Jepang sebagai penanda kembali bangkitnya kapitalisme Jepang pasca keterpurukan akibat Perang Dunia II. Buku penting untuk mengulas secara teoritik tentang apa itu “kapitalisme” dan bagaimana dia bekerja.

Beberapa poin tersebut diulas dalam diskusi virtual yang diselenggarakan pada Rabu, 27 September 2021. Diskusi mengundang Hatib Abdul Kadir seorang antropolog Universitas Brawijaya yang juga murid dari Anna Tsing di UCSC, dan Fathun Karib seorang kandidat doktor sosiologi dari Universitas Binghamton, NY. Diskusi dimoderatori oleh Muhaimin Zulhain Achsin dari Prodi Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya.

Kapitalisme Tanpa Komodifikasi

Diskusi dibuka dengan paparan Fathun Karib yang berpendapat bahwa dalam Mushroom Tsing mengkritik pendekatan Marxisme yang melihat kapitalisme sebagai relasi kapital dengan buruh. Tsing melihat bahwa komoditas jamur tidak bisa dimodifikasi. Jamur sebagai komoditas berbeda dengan determinan komoditas dalam pendekatan Marxisme klasik yang memandang komoditas adalah hasil dari proses komodifikasi. Jamur tidak melewati proses itu. Sebagai komoditas, jamur berbeda dengan tanaman jenis perkebunan, semisal tebu yang menjadi bahan dasar dari komoditas gula. Jamur jenis ini berada di luar pabrikasi komoditas. “Ada kerja-kerja di luar kerja kapital, labor di dalam pabrik yang sebenarnya menjadi penopang kapitalisme,” kata Karib.

Secara radikal Mushroom mengulas mengenai konsep-konsep kapitalisme dan mengkritik pendekatan model klasik dalam membedah kapitalisme yang mengabaikan peran alam sebagai penopang utama sirkulasi kapital. Hal senada juga pernah dikemukakan oleh Rosa Luxemburg tentang cara kerja kapitalisme yang membutuhkan “pihak ketiga”, yakni ras lain dan alam.

Tsing menggunakan kerja riset etnografi yang mendalam dan baru terhadap diskursus kapitalisme. Kerja Tsing bermula dari persoalan bagaimana jamur dapat tumbuh dan menopang kapitalisme? Dalam pendekatan Marxisme klasik, kapitalisme mengambil nilai guna secara gratis dari alam. Marx mengakui ada peran alam dalam kapitalisme. Tetapi Marx tidak sampai pada persoalan bagaimana alam itu bekerja. Melalui riset etnografis mengenai jamur, Tsing menyingkap proses kerja alam itu.

Jamur tumbuh membutuhkan pohon pinus dan pohon pinus hanya dapat tumbuh dari proses kehancuran. Hutan berperan besar dalam mengkultivasi tumbuhnya jamur jenis ini. Tsing memulai argumennya tentang kerja alam dari dua hal. Pertama, seni memperhatikan. Inti dari argumen tersebut adalah multiple temporalities dari manusia dan non-manusia yang dalam mata rantai produksi komoditas memiliki waktu dan siklus hidup yang berbeda-beda. Dengan perbedaan temporal dalam siklus kehidupan, pelbagai entitas tersebut berkolaborasi sehingga rantai komoditas itu menjadi eksis. Hal penting dalam struktur argumen Tsing adalah jamur memiliki temporalitas waktunya sendiri.

Konsep kedua yaitu skalabilitas. Dalam konsep skalabilitas bahwa komoditas yang dihasilkan oleh alam dapat diukur melalui skala-skala tertentu. Seperti perkebunan yang mengharuskan penggunaan skala tertentu dalam proses penanaman dan seterusnya. Ini lumrah ditemui dalam kecenderungan-kecenderungan yang dilakukan oleh kapitalisme perkebunan. Dalam konteks jamur, belum ada satu upaya pun yang digunakan oleh kapitalisme untuk merekayasa pertumbuhan dari jamur itu sendiri. Pada konteks ini, lanskap ekonomi-politik Marxian memiliki keterbatasan untuk melihat bagaimana cara kerja alam (non-human) sebagaimana dapat diamati dalam proses pertumbuhan jamur. Skalabilitas tidak dapat dijumpai dalam jamur.

Inheren dalam argumen Tsing adalah kritik terhadap struktur sains Barat, yakni dualisme Cartesian yang memiliki arogansi memisahkan manusia dari alam. Ini adalah titip masuk yang harus digarisbawahi dalam Mushroom. Selain itu, Mushroom juga mengulas tentang reruntuhan (ruins). Konsep ini menekankan bahwa kapitalisme itu mampu tumbuh dari sisa-sisa reruntuhan yang diakibatkan oleh dirinya sendiri. Dalam kapitalisme terdapat aspek merusak tatanan (destruktif) sekaligus kemampuan membangun dirinya sendiri dari rusaknya tatanan yang diakibatkan oleh dirinya sendiri. Akumulasi kapital berlangsung dari keruntuhan. Dalam kata lain, kapitalisme bisa tumbuh dari penderitaan atau kehancuran yang terjadi.

Jamur matsutake tumbuh dari reruntuhan puing akibat bom atom di Hiroshima dan menjadi personifikasinya jepang yang dapat tumbuh dari puing-puing kehancuran akibat kekalahan Perang Pasifik. Dari kehancuran dan rasa sakit akibat mengalami kekalahan, Jepang mampu menggunakan kekurangannya, seperti jamur yang tumbuh dalam ekologi yang hancur, sebagai kekuatan baru. “Pohon pinus tumbuh dalam kondisi yang gelap, bau, rusak, hancur. Dia tumbuh. Orang Jepang belajar dari jamur. Menjalani hidup yang hancur itu,” ujar Karib.

Sejarah tidak Selalu Berjalan Linear

Hatib Kadir menyambut diskusi mengulas Mushroom. Katanya, “life is not all about progress and ended up with a better life and stability.”

Bayangan tentang kemajuan dalam kehidupan itu tidak pernah terjadi akibat ada banyak kehancuran yang terjadi, seperti kasus kehancuran yang dialami oleh Jepang. Jamur tumbuh di pohon sisa-sisa penebangan hutan yang mengalami deforestasi. Riset etnografis Tsing berlangsung dalam beberapa tempat hutan yang mengalami kerusakan dan hancur. Jepang, Yunan, dan Oregon miliki kontur hutan yang mirip. Hancur dan mengalami deforestasi.

Di Jepang, proses itu berlangsung lebih awal, yaitu sejak Restorasi Meiji. Sejak itu, Jepang mulai dikuasai pengusaha kecil yang menimbulkan subordinasi terhadap orang-orang lokal. Penguasaan atas hutan bersamaan dengan munculnya praktik penebangan pohon secara tebang pilih yang menimbulkan banyak semak belukar dan pohon pinus. Restorasi Meiji tidak hanya tentang perubahan politik. Dia juga berpengaruh langsung pada lingkungan hutan.

Tumbuhnya jamur matsusake pada pohon pinus akibat penebangan dan deforestasi disebut sebagai alam ketiga. Ini berdasarkan tiga tipologi alam. Pertama, jungle atau alam liar. Kedua adalah industri dan pembalakan. Gambaran pendisiplinan buruh termasuk pada alam kedua. Slam ketiga adalah apa yang terjadi setelah alam pertama dan alam kedua. Tsing menemukan jamur matsusake sebagai bagian dari kronik alam ketiga yang muncul sebagai efek dari alam kedua. Kapitalisme muncul dari alam ketiga. Fenomena deforestasi dan rusaknya alam memunculkan suatu peluang baru. Tidak hanya soal Jamur, Tsing juga mencontohkan fenomena Chernoyl di Ukraina.

Mushroom tergolong sebagai karya yang sangat kreatif ada banyak pendekatan yang ditawarkan. Pertama, direct observation atau pengamatan langsung. Pengamatan langsung adalah sebuah metode yang kerja risetnya minimalis melakukan wawancara. Pengamatan langsung terhadap benda-benda yang muncul sebagai bagian dari dampak dari hancurnya alam. Kedua, arts of noticing atau seni memperhatikan, seperti sudah dijelaskan sebelumnya.

Ketiga, smells the aroma atau mencium aroma yang digunakan Tsing untuk mengamati bagaimana orang-orang Hmong di Oregon mencium jamur sebagai praktik mengingat. Mencium di sini adalah cara bagaimana ingatan bekerja menyelami kembali peristiwa masa lampau. Mencium jamur adalah serangkaian aktivitas mengingat perang Indochina waktu mereka masih di hutan.

Keempat, following trails of memory (mengikuti jejak-jejak kenangan). Tsing menggunakan pendekatan itu dengan cara mengikuti orang-orang masuk ke hutan Oregon dan mencatat apa saja yang dilakukan oleh orang-orang tersebut. Dan itu tidak hanya diterapkan pada manusia. Hatib saat berkesempatan menemani Tsing melakukan penelitian di Papua, rutin masuk hutan setiap hari, dari pagi sampai sore hari, untuk mengikuti jejak burung dan bunga anggrek ungu.

Terakhir, unexpected reality from human disturbance. Melihat pelbagai realitas dari gangguan manusiawi, seperti jamur yang tumbuh dari sebuah alam yang hancur. ada realitas yang tidak disangka oleh kebanyakan manusia dari hancurnya alam. Seperti kondisi perubahan iklim global. Kondisi suhu bumi yang berubah akan memiliki efek pada munculnya biota yang tidak pernah ada sebelumnya, seperti jamur matsusake yang tidak masuk dalam jenis klasifikasi yang dilakukan oleh ahli tanaman sebelumnya.

Beberapa Pelajaran Lainnnya

Menurut Hatib, Mushroom menawarkan beberapa konsep penting. Salah satunya adalah, precarity. Ketidakpastian pekerja pemetik jamur berbeda dengan pekerja buruh pada umumnya yang dalam sistem kapitalisme didisiplinkan melalui jam kerja. Rata-rata pekerja jamur tidak memiliki pekerjaan tetap. Precarity muncul akibat gangguan manusia (human disturbance).

Kedua, polyphonic atau alam bisa bekerja tanpa intervensi manusia. Seperti proses fotosintesis yang dapat bekerja tanpa manusia tetapi kemudian dikapitalisasi oleh manusia. Semua organisme di udara, darat, dan air saling bekerja sama seperti musik polyphonic. Kata Hatib, “kehidupan kita sangat dipengaruhi oleh organisme non-manusia yang lain dan juga sebaliknya. Kita butuh oksigen. Oksigennya dari pohon. Kita butuh bakteri untuk mencerna makanan.”

Proses polyphonic jugalah yang terjadi pada jamur yang hidup dari tanaman seperti pinus dan bagaimana pinus tumbuh dari proses pertumbuhan jamur tersebut. Jamur menghancurkan tanah dan bebatuan yang dijadikan makanan oleh pinus. Pada gilirannya pinus tersebut menjadi inang bagi jamur. Lalu ada tupai yang membantu persebaran pertumbuhan pinus. Ini adalah fenomena alam tanpa intervensi manusia.

Ketiga, contamination and collaboration. Jamur menarik banyak pekerja dari pelbagai wilayah. Seperti bertemunya pekerja dari beragam latar belakang identitas etnis dan sejarah yang berbeda, seperti orang Hmong, orang Khmer, dan orang-orang kulit putih pelarian perang Indochina. Ada juga orang Amerika Latin. Dan tentu saja, orang-orang Jepang.

Jamur menjadi satu komoditas yang dapat menarik banyak pekerja, namun ada satu pertanyaan mengapa para pekerja ini tidak bisa didisiplinkan? Menurut Hatib, itu karena mereka meniru jamur yang tidak bisa didisiplinkan dalam ukuran skalabilitas. Jamur berbeda dengan komoditas perkebunan. Seturut tali dengan itu, para pekerja jamur juga berbeda apabila dibanding dengan pekerja perkebunan.

“Sifat jamur membentuk sifat pekerjanya,” kata Hatib. Pemikiran khas dari Anna Tsing adalah tentang salvage capitalism yang di dalamnya terdapat dua indikator: surplus value dan kapitalisme yang dijalankan oleh semangat non-kapitalisme. Dalam Mushroom, Tsing memberi penekanan pada bagaimana konsep freedom yang dipahami setiap orang berbeda-beda dan itu terlihat dalam perbedaan praktik para pekerja jamur seperti orang Hmong dan Amerika Latin. Tidak adanya patronase yang tetap antara pickers dan buyers. Pickers bebas untuk menjual jamur hasil petikannya pada siapapun.

Tsing juga memotret bagaimana sebuah komoditas bisa ditranslasikan hanya ketika melintasi benua lain menjadi sesuatu yang berbeda dari asalnya. Di Jepang, jamur matsusake tidak dijual melainkan dijadikan hadiah pemberian bagi orang yang dihormati atau disayangi. Terkadang bahkan sebagai bahan sogok dalam dunia politik. Jamur matsusake punya fungsi sosial dan politik di dalam masyarakat Jepang yang berbeda dengan fungsi ekonomis di Amerika. Dalam Mushroom, Tsing menekankan bahwa pada jamur terdapat karakteristik simbiosis antar spesies dengan cara memadukan pendekatan humanisme dan studi sains. (*)

Syaiful Anam, peneliti di Eutenika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *