(Tanggapan atas tulisan “Ilusi ‘Wong Cilik’“)
Kita terlalu cepat memasukkan sosok ini sebagai representasi rakyat-wong cilik karena beliau bukan bangsawan dengan tak terlibat dengan Orde Lama dan Orde Baru. Relasi presiden Jokowi dengan pengusaha papan atas Indonesia Tionghoa yang saling memanfaatkan dan tabrak etika-moral, membuka luka lama. Sentimen anti Tionghoa kembali muncul.
ESTHI SUSANTI HUDIONO
Ada pelajaran sangat berharga yang kita dapatkan dari kehadiran kita bersama presiden Jokowi tahun 2014-2024. Kita terlalu cepat memasukkan sosok ini sebagai representasi rakyat-wong cilik karena beliau bukan bangsawan dengan tak terlibat dengan Orde Lama dan Orde Baru.
Sosok Marhen sepertinya ada padanya karena ia kuasai alat produksi berskala biasa. Lalu kita berharap beliau bisa lakukan keajaiban dan terobos tembok-tembok masalah yang ada.
Keajaiban sepertinya terwujud dengan bangunan infrastruktur yang luar biasa tercipta untuk sementara. Kita tidak mendapatkan informasi tentang bagaimana uang itu didapatkan dan bagaimana mekanisme kerjanya. Tak tahunya modus yang terjadi membawa kita ke dalam kemunduran demokrasi dan kerusakan kemajuan intelektual yang berhasil diraih.
Salah satu kerusakan yang terjadi di isu Indonesia Tionghoa. Kohesi sosial cukup berhasil diraih di masa reformasi. Relasi presiden Jokowi dengan pengusaha papan atas Indonesia Tionghoa yang saling memanfaatkan dan tabrak etika-moral, membuka luka lama. Sentimen anti Tionghoa kembali muncul.
Revolusi digital menjadi lubang katarsis energi sosial yang ada. Dengan demikian kerusuhan rasial tidak terjadi namun energinya masih begitu kuat untuk diletuskan.
Dari situasi itu maka kita perlu angkat isu tanggung jawab pemimpin. Jika terjadi kerusuhan rasial maka pemimpin yang ada harus bertanggung jawab karena mereka menjadi bagian dari “dosa” yang diperbuat.
Selain itu, menurut saya, kita perlu mendiskusikan ulang tentang rakyat yang menjadi pilar kedaulatan bangsa. Sosok yang bisa merepresentasikan “wong cilik” tidak hadir begitu saja. Sosok ini muncul karena jam terbang yang dimiliki. Ukuran yang dikenakan pemimpin “wong cilik” harus diberlakukan sama.
Banyak janji presiden Jokowi yang tak dipenuhi seperti mobil listrik dan revolusi mental. Beliau bergerak ikuti energi sosial yang ada. Perwujudan janji sepertinya tak dilakukan. Beliau bermanuver ikuti pikiran kolektif yang ada dengan beliau ambil kesempatan.
Karena itu tak salah kalau beliau dijuluki Riwanto Tirtosudarmo dalam bukunya Simposium Jokowi sebagai “pembisnis politik”. Tren inilah yang jadi legasi presiden Jokowi. Banyak pembisnis politik sekarang ini. (*)


Esthi Susanti Hudiono, penulis dan aktivis literasi untuk isu lingkungan, perempuan, Tionghoa, minoritas agama dan wong cilik.