Ekonomi industri saat ini memiliki nafsu yang sangat rakus terhadap bahan mentah dan energi. Kebutuhan seperti ini meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Kata-kata “keadilan lingkungan” kemudian mulai digunakan dalam perjuangan melawan pembuangan limbah beracun secara tidak proporsional di permukiman kulit hitam yang miskin. Keadilan lingkungan adalah sebuah lensa yang bermanfaat untuk memahami perjuangan atas dampak-dampak negatif.
JOAN MARTINEZ-ALIER
Sebuah gerakan global untuk keadilan lingkungan sedang membantu untuk mendorong masyarakat dan ekonomi menuju keberlanjutan lingkungan. Gerakan ini lahir dari “konflik-konflik distribusi ekologis” (Martinez-Alier 2002), sebuah istilah bagi keluhan kolektif terhadap ketidakadilan lingkungan. Misalnya, sebuah pabrik mungkin mencemari sungai tanpa pemilik atau dimiliki oleh sebuah komunitas yang mengelola sungai tersebut—seperti yang diteliti Elinor Ostrom dan mazhab “the commons” (sumber penghidupan bersama). Ini bukanlah kerusakan yang diperhitungkan oleh pasar.
Hal yang sama terjadi saat perubahan iklim mengakibatkan penyusutan lapisan es di Andes atau di Himalaya, merampas air dari komunitas. Lebih dari sekadar kegagalan pasar—yang menyiratkan bahwa eksternalitas semacam itu dapat dihitung dengan uang dan diinternalisasi oleh sistem kompensasi harga—ini adalah “kesuksesan pengalihan biaya”, seperti dikatakan Karl William Kapp, dan mereka memicu keluhan dari orang-orang yang menanggungnya. Jika keluhan-keluhan tersebut efektif, yang biasanya bukan begitu, aktivitas-aktivitas ini jadi terlarang.
Di Amerika Serikat, konflik distribusi ekologis semacam ini—yang diterima sebagai ketidakadilan berkelanjutan terhadap “orang kulit berwarna”—memicu sebuah gerakan sosial pada 1980an (Bullard 1993). Kata-kata “keadilan lingkungan” kemudian mulai digunakan dalam perjuangan melawan pembuangan limbah beracun secara tidak proporsional di permukiman kulit hitam yang miskin. Sejak 1991 di Washington DC, jaringan “People of Color Environmental Leadership Summit” mengikat diri “untuk membangun gerakan nasional dan internasional dari semua orang kulit berwarna untuk melawan penghancuran dan perampasan tanah dan komunitas”.
Jumlah konflik distribusi ekologis di seluruh dunia yang berfokus pada ekstraksi sumber daya, transportasi, dan pembuangan limbah semakin meningkat. Ada banyak keluhan tetapi ada juga contoh keberhasilan ketika proyek-proyek dihentikan dan alternatif dikembangkan. Keadilan lingkungan adalah sebuah lensa yang bermanfaat untuk memahami perjuangan atas dampak-dampak negatif. Pertumbuhan ekonomi mengubah “metabolisme sosial” global, dengan kata lain, aliran energi dan material yang memengaruhi sumber-sumber penghidupan manusia dan konservasi alam di seluruh dunia. Ekonomi industri saat ini memiliki nafsu yang sangat rakus terhadap bahan mentah dan energi. Bahkan ekonomi industri yang tidak tumbuh pun membutuhkan pasokan bahan bakar fosil tambahan baru karena energi tidak dapat didaur ulang, dan industri ini juga membutuhkan pasokan material baru yang hanya didaur ulang sebagian. Kebutuhan seperti ini meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi.
Dengan industrialisasi, jumlah karbon dioksida yang meningkat disimpan di atmosfer telah meningkatkan efek rumah kaca atau mengasamkan lautan. Jenis ekonomi seperti ini tidak melingkar; dia entropis. Akuifer, kayu, dan perikanan dieksploitasi berlebihan, kesuburan tanah terancam, dan keanekaragaman hayati terkuras. Perubahan metabolisme sosial semacam ini memicu konflik distribusi ekologis yang terkadang tumpang tindih dengan konflik sosial lain, seperti kelas, identitas etnis atau pribumi, gender, kasta, atau hak kelola wilayah.
Sebuah gerakan global untuk keadilan lingkungan secara perlahan menegaskan dirinya seperti yang ditunjukkan dalam Environmental Justice Atlas (Atlas Keadilan Lingkungan) (Martinez-Alier et al. 2016). Jenis penipisan lainnya terjadi seiring kebutuhan akan pertumbuhan metabolik untuk pertambangan, bendungan, gas dari rekah hidrolik (fracking), perkebunan, dan jaringan transportasi baru. Secara perlahan perkembangan ini sampai di setiap penjuru planet yang tersisa, merusak lingkungan, mengancam keberadaan penduduk lokal yang mengeluh karenanya. Ada potensi aliansi yang rumit antara gerakan keadilan lingkungan dan gerakan konservasi, meskipun ada seruan konvergensi yang lebih mudah antara gerakan Degrowth dan keadilan lingkungan sejak 2012 (Martinez-Alier 2012).
Konflik distribusi ekologis berbeda dari konflik distribusi ekonomi mengenai gaji, harga, dan sewa. Konflik ini adalah tentang kondisi sumber penghidupan, akses terhadap sumber daya alam, dan penyebaran polusi. Kelompok pendukungnya cenderung bukan pekerja industri, melainkan perempuan pribumi yang berjuang melawan pertambangan terbuka, petani melawan invasi perkebunan kelapa sawit, atau warga kota dan pemulung sampah melawan insinerator (seperti dalam banyak kasus di Atlas Keadilan Lingkungan). Konflik semacam ini berbeda dari perjuangan klasik antara pemodal dan buruh, meskipun terkadang saling tumpang tindih.
Konflik-konflik ini adalah perjuangan dua lapis. Lapis pertama menyangkut memperjuangkan nilai-nilai tertentu yang harus diterapkan saat mengambil keputusan mengenai penggunaan alam dalam proyek-proyek tertentu, misalnya nilai pasar (termasuk nilai uang fiktif melalui penilaian risiko atau metode lainnya); nilai sumber penghidupan; kesakralan; hak wilayah adat; nilai-nilai ekologis menyesuaikan satuan ukurannya masing-masing. Lapis kedua, dan yang lebih penting, perjuangan melakukan pengelompokan sosial yang seharusnya punya daya untuk memasukkan atau mengesampingkan nilai-nilai yang relevan, untuk mempertimbangkannya, dan untuk mengizinkan pengorbanan. Misalnya, apakah hak wilayah adat yang sakral punya kekuatan veto (Martinez-Alier 2002)?
Sejak pertengahan 1990an, sebuah koneksi terbentuk antara gerakan keadilan lingkungan di Amerika Serikat dan environmentalisme kaum miskin di Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Ini menyusul kematian Chico Mendes pada 1988 yang berjuang melawan penggundulan hutan di Brasil dan kematian Ken Saro-Wiwa dan kawan-kawan Ogoni pada 1995 di Delta Niger yang berjuang melawan ekstraksi minyak dan pembakaran gas oleh Shell. Juga pada pertengahan 1990an, buku “teolog pembebasan” Leonardo Boff, Cry of the Earth, Cry for the Poor (1995), menghubungkan antara kemiskinan dan keluhan lingkungan. Karyanya diangkat sebagai kebenaran dalam ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si’ (2015) yang dengan sendirinya merupakan seruan untuk keadilan lingkungan.
Sejak 1980an, gerakan keadilan lingkungan telah memprakarsai seperangkat konsep dan sebuah kampanye. Usulan untuk meninggalkan bahan bakar fosil dalam tanah dikembangkan oleh Acción Ecológia di Ekuador, ERA di Nigeria, dan jaringan Oilwatch sejak 1997. Perlawanan terhadap ketidakadilan sosio-lingkungan telah melahirkan banyak Organisasi Keadilan Lingkungan (Environmental Justice Organizations, EJO) yang mendorong transformasi sosial alternatif dan mengembangkan kosakata baru tentang keadilan lingkungan, yang mencakup istilah dan frasa seperti epidemiologi populer, zona pengorbanan, keadilan iklim, keadilan air, kedaulatan pangan, pembajakan biologi; “desa kanker” di Tiongkok, “gurun hijau” di Brasil, “pueblos fumigados” (orang-orang yang difumigasi) di Argentina, “mafia pasir” di India; rasisme lingkungan, “perkebunan pohon bukan hutan”, hutang ekologis, perampasan lahan, dan perampasan laut. Beberapa jaringan menggunakan konsep-konsep seperti itu dalam berbagai bahasa, menciptakan lagu-lagunya sendiri, memamerkan spanduknya sendiri, dan membuat film dokumenternya sendiri.
Bacaan lanjutan
Boff, Leonardo (1995), Cry of the Earth, Cry of the Poor. New York: Orbis Books.
Bullard, Robert D. (ed.) (1993), Confronting Environmental Racism: Voices from the Grassroots. Boston: South End Press.
Paus Fransiskus (2015), Laudato Si’. http://w2.vatican.va/content/dam/francesco/pdf/encyclicals/documents/papa-francesco_20150524_enciclicalaudato-si_en.pdf.
Martinez-Alier, Joan (2002), The Environmentalism of the Poor: A Study of Ecological Conflicts and Valuation. Cheltenham: Edward Elgar.
——— (2012), ‘Environmental Justice and Economic Degrowth: An alliance between Two Movements’, Capitalism Nature Socialism. 23 (1): 51–73.
Martinez-Alier, Joan, Leah Temper, Daniela Del Bene and Arnim Scheidel (2016), ‘Is There a Global Environmental Justice Movement?’, Journal of Peasant Studies. 43 (3): 731–55.
Kamus EJOLT, http://www.ejolt.org/section/resources/glossary/
The Environmental Justice Atlas (EJ Atlas), http://ejatlas.org.

Joan Martinez-Alier adalah peneliti senior di bidang ekonomi ekologis dan politik ekologi di Institut Sains dan Teknologi Lingkungan, Autonomous University of Barcelona (ICTA-UAB). Dia adalah penulis beberapa buku seperti Ecological Economics: Energy, Environment, and Society (Blackwell 1987) dan The Environmentalism of the Poor: A Study of Ecological Conflicts and Valuation (Edward Elgar, 2002).
Artikel ini diterjemahkan dari bab berjudul “Environmental Justice” yang dimuat dalam buku Pluriverse: A Post-Development Dictionary (Editor: Ashish Kothari, Ariel Salleh, Arturo Escobar, Federico Demaria, dan Alberto Acosta) Tulika Books, 2019.
Artikel ini diterjemahkan dan disunting oleh Anton Novenanto.