Ekofeminisme

Aktivis perempuan ditemukan ketika reproduksi kehidupan sosial dan ekologis terancam: baik oleh limbah beracun, kekerasan rasial, eksploitasi kerja perawatan, hilangnya keanekaragaman hayati, penggundulan hutan, benih yang terkomoditisasi, atau  perampasan tanah leluhur untuk “pembangunan”. Secara global, perempuan melakukan 65 persen dari semua pekerjaan hanya untuk mendapatkan 10 persen dari upah, sementara di negara Selatan perempuan memproduksi 60 hingga 80 persen dari semua makanan yang dikonsumsi. Analisis ini memberikan landasan sosiologis yang sistemik bagi semua alternatif pasca-pembangunan, yang mencari baik kesetaraan maupun cara hidup yang berkelanjutan.

CHRISTELLE TERREBLANCHE

Ekofeminis menguraikan hubungan historis, material, dan ideologis antara penindasan terhadap perempuan dan dominasi atas alam. Sebagai sebuah gerakan yang terus berkembang, mereka bersentuhan dengan beragam area dalam teori politik termasuk feminis, dekolonial, dan etika lingkungan, yang mendorong pemeriksaan tentang bagaimana konsep-konsep dasar tertanam secara mendalam dan dirusak oleh asumsi-asumsi tradisional terkait jenis kelamin dan gender.

Sejak awal kemunculannya, pada 1960an, teori ekofeminis terinspirasi oleh aksi langsung akar rumput. Ekofeminisme berkembang pesat seiring dengan gerakan anti-nuklir dan perdamaian pada 1970an dan 1980an, dan di tengah meningkatnya keprihatinan publik atas degradasi lingkungan. Para aktivis perempuan ditemukan ketika reproduksi kehidupan sosial dan ekologis terancam: baik oleh limbah beracun, kekerasan rasial, eksploitasi kerja perawatan, hilangnya keanekaragaman hayati, penggundulan hutan, benih yang dikomoditaskan, atau  perampasan tanah leluhur untuk “pembangunan”.

Ekofeminis menegaskan bahwa emansipasi manusia dari sikap-sikap patriarki yang menyejarah tidak dapat dicapai tanpa pembebasan semua makhluk yang “dijadikan liyan”. Mereka melihat bagaimana perempuan di negara Utara, serta buruh tani dan masyarakat adat di negara Selatan dapat bersatu dalam suara politik tunggal yang otentik. Alasannya adalah bahwa kelompok-kelompok sosial ini terampil dalam merawat kehidupan manusia dan non-manusia. Oleh karenanya, sebagai gerakan politik, ekofeminisme, adalah sui generis (unik) dan bukan sekadar cabang dari feminisme, Marxisme, atau ekologi. Terlepas dari beberapa persilangan gagasan, ekofeminisme mengartikulasikan kembali keprihatinan feminis tentang kesetaraan sosial dengan menghubungkan dengan keadilan lingkungan dan integritas.

Ekofeminisme terkadang dianggap sebagai kebangkitan kembali kebijaksanaan kuno tentang keterkaitan “semua kehidupan”. Salah satu contohnya adalah perempuan Chipko di India berabad-abad lalu, yang melindungi hutan dari penebangan dengan merangkul pohon-pohon. Namun istilah ekofeminisme sesungguhnya dikaitkan dengan seruan feminis Prancis, Francoise D’Eaubonne pada 1974, untuk sebuah revolusi guna menyelamatkan ekosfera; sebuah rekonstruksi total terhadap hubungan antara manusia dan alam, serta laki-laki dan perempuan. Analisis historis dari perintis teori ini, Carolyn Merchant tentang revolusi ilmiah di Eropa, The Death of Nature, mengungkap tekad para bapak modernitas untuk menguasai kedaulatan reproduksi perempuan melalui perburuan penyihir yang terlembagakan. Pengetahuan khusus para ahli tumbuhan dan bidan digantikan oleh “profesi kedokteran” yang menempatkan alam dan tubuh sebagai “mesin”. Hal ini menghapus prinsip kehati-hatian yang melekat dalam kerja-kerja perawatan perempuan, sementara pada saat yang sama memperkuat ontologi dualis tentang superioritas laki-laki dan kontrol atas “liyan”, seperti perempuan “yang liar” dan alam yang “kaotis”.

Para modernis liberal arus utama sering kali membaca kritik ekofeminisme secara terbalik, seakan-akan mengukuhkan gagasan patriarki bahwa perempuan atau penduduk pribumi “pada dasarnya lebih dekat dengan alam” dan karenanya inferior. Faktanya, ekofeminisme mendekonstruksi oposisi biner hegemonik lama yang berasal dari dualisme “manusia di atas alam”, mengungkap bagaimana hal ini digunakan oleh mereka yang punya hak istimewa secara gender, etnis, dan kelas untuk mempertahankan dominasi sosialnya melalui “peliyanan”. Dipahami dengan cara ini, sudut pandang ekofeminisme dapat membantu memperdalam kesadaran diri reflektif seseorang tentang bagaimana mereka sendiri diuntungkan oleh relasi kekuasaan yang ada.

Secara global, perempuan melakukan 65 persen dari semua pekerjaan hanya untuk mendapatkan 10 persen dari upah, sementara di negara Selatan perempuan memproduksi 60 hingga 80 persen dari semua makanan yang dikonsumsi. Menyusul penelitian di tanah jajahan di Afrika dan Amerika Selatan, Maria Mies dan rekan-rekannya di Sekolah Bielefeld Jerman mengusulkan “perspektif subsistensi” yang memvalidasi pengetahuan ekologis perempuan dan petani sebagai produsen dan penyedia kehidupan. Sejak 1980an, argumen ekonomi ini telah memobilisasi ekofeminisme sebagai politik pasca-pembangunan, yang mengantisipasi alternatif kontemporer seperti pandangan dunia buen vivir atau “kehidupan baik” dari masyarakat pribumi Amerika Latin, dan perhatian terkini dari Eropa terhadap ekonomi de-pertumbuhan (de-growth) dan ekonomi solidaritas. Ekspose lainnya tentang “mal-pembangunan” adalah paparan Vandana Shiva tentang bagaimana kedaulatan pangan komunal yang dicapai oleh petani perempuan India hilang setelah diperkenalkannya teknologi Revolusi Hijau di abad ke-20.

Seiring solusi finansial dan teknologis memperdalam krisis ekologis, ekofeminis mengungkap ciri kompleks kelas, etnis, dan gender dari pengisapan kapitalis. Sebagai politik materialis yang berlandaskan kerja, dia secara definisi non-esensialis, menghubungkan titik-titik antara konsumsi berlebihan di negara Utara yang industrialis dan makmur dengan “keran dan lubang pembuangan”-nya di negara Selatan. Sebab, daerah pinggiran dari produktivisme patriarki kapitalis yang kemudian menanggung dampak polusinya—sebagai hutang ekologis pada masyarakat pribumi, dan sebagai hutang yang menubuh pada perempuan yang hidup dan generasi mendatang. Ekofeminis materialis seperti Ariel Salleh, Mary Mellor, Eva Charkiewicz, Ana Isla, dan lainnya mengaitkan subsistensi dan kecukupan ekologis. Kritik struktural mereka terhadap ekonomi reduksionis menunjuk pada pengabaiannya terhadap kerja reproduktif di rumah dan di ladang—serta terhadap siklus-siklus alam tempat kapitalisme bergantung.

Ekofeminisme berpendapat bahwa kerja reproduktif semacam itu berada a priori terhadap valorisasi kapitalis dan Marxis atas produksi dan nilai tukar sebagai penggerak akumulasi. Salleh mengkonseptualisasikan pekerja reproduktif yang tak dibicarakan—perempuan, petani, dan kaum pribumi—sebagai “kelas meta-industri” mayoritas di seluruh dunia yang keterampilannya mengekspresikan epistemologi dan etika “materialis yang menubuh”. Mode regeneratif mereka dalam menyediakan kebutuhan pada batas alam adalah respons politik dan material yang siap pakai untuk krisis lingkungan. Pekerja seperti itu ada di seluruh dunia dalam sebuah mosaik kerja yang tidak teralienasi secara luas namun seakan-akan tak terlihat, mempertahankan kehidupan dalam jaring-jaring rumit hubungan kemanusiaan-alam. Kerja meta-industri menanamkan “nilai metabolik” bersih yang positif ke dalam siklus ekologis. Jelas, ekofeminisme memperluas fokus analisis kelas Marxis tradisional. Dan memang, teoretisasinya tentang landasan “yang ternaturalisasi” oleh pengisapan kapitalis melalui kerja reproduktif sedang diadopsi oleh para akademisi kiri.

Namun, selalu ada risiko bahwa teorisasi perempuan akan dikemas ulang dalam meta-narasi patriarki yang ada. Politik ekofeminis bertujuan untuk mendorong emansipasi manusia melalui ekonomi solidaritas regeneratif yang berbasis pada logika berbagi. Dia mengutamakan kompleksitas di atas keseragaman, kerjasama di atas persaingan, kepemilikan bersama di atas kepemilikan pribadi, dan nilai guna di atas nilai tukar. Politik emansipatoris semacam ini semakin diakui karena kemampuannya untuk menjelaskan konvergensi antara keprihatinan ekologi, feminisme, Marxisme, dan etika pribumi yang berpusat pada kehidupan seperti swaraj di India dan etika ubuntu di Afrika. Analisis ini memberikan landasan sosiologis yang sistemik bagi semua alternatif pasca-pembangunan, yang mencari baik kesetaraan maupun cara hidup yang berkelanjutan. Ekofeminis memperjuangkan pandangan dunia yang didasarkan pada kepedulian terhadap keberagaman segala bentuk kehidupan.

Bacaan lanjutan

Merchant, Carolyn (1980), The Death of Nature: Women, Ecology and the Scientific Revolution. San Francisco: Harper.

Mies, Maria and Vandana Shiva (1993), Ecofeminism. London: Zed Books.

Salleh, Ariel (ed.) (2009), Eco-Sufficiency and Global Justice: Women Write Political Ecology. London: Pluto Press.

Women in Diversity, http://www.navdanya.org.

WoMin – African Women Unite Against Mining, https://womin.org.za.

World March of Women, www.marchemondiale.org.

Christelle Terreblanche adalah seorang kandidat doktor Studi Pembangunan di Centre for Civil Society, University of KwaZulu-Natal, Afrika Selatan. Minat penelitiannya termasuk ekofeminisme, politik ekologi, dan keadilan ekologis. Dia adalah seorang jurnalis politik kawakan dan mantan jurubicara South African Truth and Reconciliation Commission.

Artikel ini diterjemahkan dari bab berjudul “Ecofeminism” yang dimuat dalam buku Pluriverse: A Post-Development Dictionary (Editor: Ashish Kothari, Ariel Salleh, Arturo Escobar, Federico Demaria, dan Alberto Acosta) Tulika Books, 2019.

Artikel ini diterjemahkan dan disunting oleh Anton Novenanto.

Leave a Reply