Re-reading Globalization: China & COVID-19
May 10, 2020
hatib
10 Buku Antropologi Ekologi Progresif
May 31, 2020

Anton Novenanto, Direktur Eksekutif Perkumpulan Eutenika; mengajar di Jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Brawijaya.

Catatan Diskusi

Meneropong Peran Tiongkok pasca-Pandemi

Banyak pihak bertanya-tanya tentang bagaimana nasib globalisasi pasca krisis akibat pandemi COVID-19. Persaingan politik internasional memang tidak bisa tidak untuk mengabaikan peran Tiongkok dalam percaturan global.

Oleh: Anton Novenanto

Dunia sudah pernah mengalami pelbagai krisis ekonomi. Namun, baru krisis COVID-19 ini yang “berhasil” menghentikan denyut nadi mobilitas global di seluruh dunia. Kita mengalami sebuah momentum langka ketika untuk pertama kalinya secara global laju pertumbuhan ekonomi dunia di seluruh bumi ini “berhenti” bersama-sama.

Salah satu yang menjadi sorotan masyarakat dunia adalah, tentu saja, Tiongkok. Bagaimana tidak, di situlah jenis baru virus korona yang menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan dideteksi. Pengetahuan semacam itu membuat penduduk dunia meyakini bahwa wabah yang melanda penduduk bumi saat ini bermula dari sebuah pasar basah di kota Wuhan, Provinsi Hubei. Bahkan Presiden AS Donald Trump secara intensional berusaha menggunakan istilah “China virus”.

Diskusi Daring #5 Eutenika “Re-reading Globalization: China and COVID-19” Rabu 20 Mei lalu berangkat dari sebuah pertanyaan besar tentang bagaimana keterkaitan pandemi COVID-19 dan globalisasi. Secara khusus, diskusi yang dimoderasi Dian Mutmainah, co-founder Eutenika, menelusuri pelbagai skenario dan peluang tentang peran Tiongkok dalam laku globalisasi pasca pandemi. Hadir sebagai narasumber diskusi adalah Nur Rachmat Juliantoro, ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM; Dewa Ayu Putu Eva Wishanti, kandidat doktor di University of Leeds; dan, J. Casey Hammond, pengamat hubungan China-ASEAN.

Posisi dunia terhadap Tiongkok

Nur Rachmat mengamati bahwa ada beberapa pihak yang meyakini adanya gejala menuju deglobalisasi. Mulai dari ditutupnya perbatasan, larangan atau pengetatan aturan penerbangan internasional, sampai pelbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan primer dalam negeri di banyak negara.

Akan tetapi, Rachmat tetap optimis bahwa denyut globalisasi tidak sedang, dan akan, berhenti. Globalisasi hanya berubah bentuk menyesuaikan diri dengan segala peluang yang mungkin diambil di tengah pandemi ini. Dan Tiongkok melihat peluang itu.

Ada tiga posisi negara-negara dunia melihat Tiongkok dalam krisis COVID-19 ini. Pertama, pandangan Tiongkok sebagai korban, sama seperti negara-negara lain yang terdampak oleh wabah ini. Rachmat mencatat bahwa GDP Tiongkok turun drastis sebesar 10%, yang terparah sejak 1976.

Kedua, Tiongkok adalah pemimpin global dalam mengendalikan wabah ini. Khususnya tentang peran besar Tiongkok di WHO dan ragam bantuan yang dilayangkan ke banyak negara. 

Meskipun begitu, ada juga negara yang melihat Tiongkok sebagai musuh bersama, berasumsi bahwa Tiongkok secara sengaja membiarkan virus itu menyebar ke seluruh dunia. Dan oleh karena itu mereka berupaya menuntut kompensasi dari Tiongkok atas kerugian yang dideritanya akibat wabah ini. Posisi terakhir ini biasanya diambil oleh negara-negara yang khawatir Tiongkok akan bangkit sebagai kekuatan global baru, termasuk Amerika Serikat.

“Sputnik moment”

Rachmat menganalogikan peristiwa pandemi ini ibarat Sputnik moment pada 1957. Kala itu, Uni Sovyet meluncurkan roket Sputnik keluar angkasa, sesuatu yang belum bisa dilakukan Amerika Serikat waktu itu. Hanya saja, saat ini Amerika Serikat harus bersaing dengan Tiongkok.

Eva Wishanti menyoroti persaingan global terbesar saat ini adalah dalam hal inovasi dan peran teknologi mengatasi pandemi. Namun, ada beberapa kendala bagi Tiongkok dalam memperluas pengaruh globalnya. Kendala itu justru muncul dalam struktur internal.

Tiongkok sadar betul bahwa semakin besar pengaruhnya di dunia membawa konsekuensi pada semakin besar tanggung jawabnya pada dunia. Sampai saat ini, mereka mengambil keuntungan dengan statusnya sebagai negara berkembang.

Memperbesar keterlibatan dengan dunia internasional berkonsekuensi pada perubahan struktur dalam negeri dengan menguatnya tuntutan akan transparansi dan demokratisasi. Perubahan-perubahan semacam itu, menurut Eva, berdampak pada delegitimasi kekuasaan partai komunis di Tiongkok.

Eva yakin bahwa globalisasi masih tetap berjalan di era COVID-19 ini. Penyaluran bantuan pun penuh dengan kepentingan politis dan pemeliharaan hubungan bilateral jangka panjang. Globalisasi tetap digerakkan oleh permintaan pasar yang menyesuaikan kebutuhan negara-negara mengatasi pandemi ini. 

Perubahan bentuk globalisasi juga menjadi perhatian Casey Hammond. Arah globalisasi saat ini cenderung lebih praktis untuk mengatasi wabah dan menemukan vaksin.

Dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya, khususnya Singapura, Casey melihat bahwa Indonesia cenderung lebih aman secara ekonomi. Indonesia dapat memenuhi kebutuhan primernya sendiri karena ketergantungan dengan perdagangan global tidak sebesar negara-negara Asia Tenggara lainnya. Meskipun begitu, dia juga menyoroti buruknya sistem dan infrastruktur kesehatan di Indonesia.

Arah globalisasi pasca COVID19

Ketiga narasumber menyoroti kompetisi penemuan vaksin sebagai satu penggerak globalisasi saat ini. Moralitas penemu vaksin akan menjadi salah satu penentu trajektori globalisasi pasca pandemi dan WHO menjadi lembaga internasional yang perlu terus dipantau. Secara kritis, Rachmat melihat adanya pengaruh besar Tiongkok pada WHO. Salah satu indikasinya adalah syarat untuk tidak mengakui Taiwan.

Penarikan dukungan Amerika Serikat pada WHO menjadi kesempatan untuk penguatan pengaruh Tiongkok ke dunia. Pandemi COVID-19 ini menjadi peluang bagi penyebarluasan “the China Dream”, baik itu ke dalam dan ke dunia internasional. Menurut Rachmat, citra Tiongkok sebagai bangsa besar akan semakin kuat jika mereka menjadi negara pertama yang berhasil menemukan vaksin untuk COVID-19. 

Tentang itu, Casey berpandangan bahwa Tiongkok tidak akan mendistribusikan vaksin itu secara gratis. Ada kepentingan politis yang diharapkan dari relasi bilateral terkait bantuan kesehatan itu, khususnya terkait dengan posisi Taiwan. Tentu saja, dinamika globalisasi pasca COVID-19 akan lebih jauh menarik apabila justru Taiwan yang pertama kali menemukan vaksin tersebut. (*)


%d bloggers like this: