Kerja domestik bukan “kodrat” perempuan, melainkan keterampilan dasar yang semestinya bisa dipelajari dan dibagi. Ketika perawatan dipaksa menjadi tugas otomatis dari perempuan, yang terjadi bukan hanya ketimpangan di rumah, tetapi juga ketidakadilan lingkungan. Ekofeminisme, dalam konteks ini, bukan sekadar “membela perempuan”, melainkan membongkar cara kerja dunia yang bergantung pada kerja perawatan gratis yang dilakukan oleh perempuan dan planet. Produksi pengetahuan harus hadir sebagai relasi, sebagai jejaring, dan sebagai “laku”—agar ilmu pengetahuan dapat menjadi kerja yang merawat kehidupan.
Tag: politik
Tanggung Jawab Pemimpin dan Soal Rakyat
Kita terlalu cepat memasukkan sosok ini sebagai representasi rakyat-wong cilik karena beliau bukan bangsawan dengan tak terlibat dengan Orde Lama dan Orde Baru. Relasi presiden Jokowi dengan pengusaha papan atas Indonesia Tionghoa yang saling memanfaatkan dan tabrak etika-moral, membuka luka lama. Sentimen anti Tionghoa kembali muncul.
Membaca Politik Indonesia dalam Arus Dunia
Pertanyaannya bukan lagi apakah pemilu berjalan jujur, tetapi sejauh mana masyarakat memahami bahwa demokrasi bisa direkayasa. Sebagai negara besar dengan sejarah panjang, kita punya peluang untuk membangun kesadaran baru—kesadaran yang tidak hanya melawan kekuasaan, tetapi juga membongkar logika pasar yang membentuknya.
Ketika Demokrasi Direkayasa: Antara Etika dan Algoritma
Politik tanpa etika bukanlah keniscayaan, melainkan pilihan. Dalam situasi seperti ini, kaum intelektual tidak bisa lagi berdiri di tengah tapi harus memilih sisi. Kita jangan terlarut dalam kegembiraan yang direkayasa. Politik bukan hanya soal siapa yang menang, tetapi bagaimana proses itu dijalankan. Dan dalam proses itu, kesadaran kritis adalah senjata utama.
Ilusi “Wong Cilik”: Membongkar Narasi Politik Jokowi
Ini bukan soal kepedulian. Ini adalah bisnis politik. Warga hanya digunakan suaranya dan angkanya. Konsep democracy by numbers menjadi sorotan utama. Demokrasi yang seharusnya melindungi kelompok minoritas justru berubah menjadi sistem yang hanya mengutamakan suara terbanyak. Dalam sistem ini, keadilan dikorbankan demi elektabilitas.
Jokowi dan Politik Indonesia: Dari Ilusi Wong Cilik ke Algoritma Kekuasaan
Geliat ekonomi dan politik lokal yang menunjukkan bahwa Indonesia tak sesuram yang dibayangkan. Di balik represi yang semakin menguat, selalu ada ruang untuk resistensi. Revolusi tidak bisa hanya digerakkan oleh kelas menengah yang tidak mengakar.