50 Tahun Rekayasa Sosial
June 10, 2020
Dari “Outlander” ke “Outlandish”
June 20, 2020
Foto oleh Diane Helentjaris, lisensi mengikuti CC BY.

Gökçe Günel adalah Asisten Profesor Antropologi di Univesitas Rice, Texas; Saiba Varma adalah Asisten Profesor Antropologi di Universitas California San Diego; dan, Chika Watanabe adalah dosen Antropologi Sosial di Universitas Manchester.

Sebuah Manifesto untuk Etnografi Tambal-Sulam

Etnografi tambal-sulam memperluas pemahaman tentang material, perangkat, objek yang dapat digunakan dalam analisis. Sebuah sumberdaya bagi dunia yang berubah akibat pandemi.

Oleh: Gökçe Günel, Saiba Varma, dan Chika Watanabe

Bahkan sebelum kedatangan pandemi Covid-19, kerja lapang dalam “antropologi tradisional” sudah bermasalah. Beberapa waktu terakhir, banyak etnografer sudah mempertanyakan dalil-dalil; kerja lapang: pemisahan antara “lapang” dan “rumah”, asumsi-asumsi bias gender (maskulin) tentang pekerja lapang yang selalu siap-sedia untuk apapun, dan perhatian khusus antropologi pada subjek-subjek yang tertindas (Anjaria dan Anjaria 2020; Robbins 2013). Pada saat yang sama lingkungan kerja kampus neoliberal “feminisasi” dalam antropologi, harapan akan keseimbangan pekerjaan-kehidupan, keprihatinan atas lingkungan, dan kritik antropologi feminis dan dekolonial telah menuntut usaha pemikiran ulang atas kerja lapang sebagai sebuah proses yang mensyaratkan untuk bertahan dalam waktu setahun atau lebih di sebuah tempat jauh di sana. Kewajiban keluarga, prekaritas ataupun faktor-faktor lain yang tersembunyi, terstigma, tak terucap—dan sekarang Covid-19—telah membuat kerja lapang soliter, jangka panjang semakin sulit, bahkan tidak mungkin, bagi banyak peneliti. Pandemi telah meniadakan banyak rencana kerja lapang dalam waktu dekat dan kemungkinan untuk melanjutkan penelitian etnografis dalam kondisi yang sama tampak tak pasti. Semakin banyak ahli medis dan pengamat yang percaya bahwa kita tidak mungkin kembali “normal”, untuk mengatakan bahwa kerja lapang “tradisional” jangka panjang bisa jadi tidak memungkinkan lagi.

Sementara para etnografer telah beradaptasi dengan beragam tantangan kerja lapang menggunakan pelbagai metode seperti penelitian daring, etnografi multi-tempat, otoetnografi, dan mendatangi subjek penelitian yang mudah bergerak, akrab, atau sudah ahli (Harrison 1991; Marcus 1995; Gupta dan Ferguson 1997; Amit 2000; Burawoy 2000; Faubion 2009; Faubion dan Marcus 2009; Nagar 2014; Papacharissi 2015; Huang 2016), sebagian besar inovasi tersebut didasarkan pada kebutuhan subjek penelitian. Beberapa etnografer telah sampai pada bagaimana teknik-teknik etnografi sedang dibentuk kembali oleh kehidupan sang peneliti dan pelbagai komitmen profesional dan personal—dari pengasuhan anak dan kesehatan; sampai kendala finansial, lingkungan, politik, dan temporal; sampai komitmen hubungan “di rumah”; sampai kefanaan subjek-subjek penelitian tertentu.

Kami mengusulkan untuk melakukan konsolidasi atas berbagai inovasi yang tengah terjadi pada antropologi yang telah disampaikan namun masih ditaruh di kotak hitam. Kami berpegang pada tradisi teorisasi feminis dan dekolonial tentang jejalin personal dan profesional, teoretis dan metodologis dalam penelitian. Meskipun banyak terjadi feminisasi disiplin ilmu sosial dan humaniora, kehidupan penelitian dan rumah tetap bias jender dan kerja-kerja domestik (feminin) yang memungkinkan bagi terjadinya teorisasi kerap kali dihapuskan (Ahmed 2006);asumsi-asumsi baku mengekang produktivitas dalam akademia dan kesehatan mental memengaruhi penelitian dan penulisan (Pollard 2009; Cvetkovich 2013; Pinto 2014; Johnson 2016; Platzer dan Allison 2018) layanan-layanan tambahan yang tidak proporsional menuntut staf pengajar queer dan kulit berwarna (Ahmed 2012; Matthew 2016); gesekan-gesekan antara kehidupan keluarga dan kampus menghambat produktivitas (Bothwell 2018; Lundquist dan Misra 2015) dan, iklim politik yang sarat beban dan aturan pekerjaan dan promosi yang tidak bersahabat meremehkan antropolog publik atau aktivis (McGranahan 2006). Meskipun kaya, karya-karya tersebut tidak secara eksplisit menyampaikan bagaimana antropolog telah melakukan inovasi atas metode dan epistemologi untuk melawan keprihatinan yang intim, personal, politis, ataupun material.

Kami kemudian sampai pada pentingnya untuk mengonseptualisasikan sebuah pendekatan metodologis dan teoretis baru yang kami sebut etnografi tambal-sulam(patchwork etnography). Etnografi tambal-sulam mulai dari pemahaman bahwa kombinasi-ulang antara “rumah” dan “lapang” semakin menjadi kebutuhan—lebih-lebih dalam menghadapi pandemi saat ini. Dengan etnografi tambal-sulam, kami mengacu pada rangkaian proses dan protokol etnografi yang dirancang untuk kunjungan-kunjungan lapang singkat, penggunaan data yang berkeping-keping namun terperinci, dan ragam inovasi lain yang menolak tuntutan ketetapan, keutuhan, dan kepastian dalam proses publikasi. Etnografi tambal-sulam merujuk bukan pada perjalanan dan hubungan singkat, satu-kali, dan instrumental a la konsultan, tapi upaya-upaya penelitian yang memelihara komitmen jangka-panjang, keterampilan bahasa, pengetahuan kontekstual, dan berpikir hati-hati yang menjadi cirikhas kerja lapang tradisional (Faubion 2009; Pigg 2013; Adams, Burke, dan Whitmarsh 2014), sementara hadir sepenuhnya dalam perubahan situasi kehidupan dan pekerjaan adalah produksi pengetahuan yang berubah secara mendalam dan tak bisa dicabut lagi. Etnografi tambal-sulam bukanlah sebuah pengalihan untuk lebih produktif. Bahkan, dia adalah sebuah cara yang efektif, namun lebih ramah dan bersahabat dalam melakukan penelitian karena dia memperluas pertimbangan kita tentang material, perangkat, objek yang dapat digunakan dalam analisis.

Di awal 2021, dengan dukungan dana dari Yayasan Wenner-Gren, kami akan melibatkan sekelompok antropolog dari banyak negara untuk berjuang dengan ragam situasi kehidupan profesional dan kehidupan untuk menyusun wawasan-wawasan dekolonial dan feminis. Alih-alih melihat komitmen ganda sebagai hambatan bagi peneliti, kami akan merefleksikan apa saja bentuk-bentuk pengetahuan dan metodologi yang muncul dalam dan dari komitmen kehidupan dan kerja peneliti. Inovasi metodologis etnografi tambal-sulam merekonseptualisasi penelitian sebagai bekerja bersama (daripada bekerja melawan) gap, hambatan, pengetahuan parsial, dan keberagaman komitmen yang mencirikan seluruh produksi pengetahuan (Haraway 1988; Cerwonka dan Malkki 2007).

Pendekatan kami memeriksa seluruh tahapan dalam proses etnografis dan menanyakan bagaimana masing-masing dibentuk ulang oleh realitas-realitas baru yang berhadapan dengan kita. Pertama, bagaimana kita harus merekonseptualisasi konsep-konsep pergi atau berangkatke lapang? Bagaimana para peneliti mengkonstruksi situs dan kunjungan lapang ketika mereka menghadapi hambatan personal, finansial dan politis? Bagaimana kita bisa memutuskan untuk pergi ke lokasi penelitian, dan apa yang kita lakukan ketika hal itu tidak lagi mungkin? Bagaimanakah tekanan-tekanan tersebut mendefinisikan ulang “rumah” dan “lapang”? Sebagai etnografer, apakah tugas utama kita adalah “pergi keluar sana menghadapi ketidaktahuan secara radikal … menerjemahkan yang tidak bisa dipahaminya, menjadi mungkin” (Howell 2017, 18) ataukah ada hal lain yang dapat ditawarkan oleh etnografi tambal-sulam? Kedua, kami fokus pada kebutuhan untuk mengakomodasi mode baru “berada di sana” ketika kerja lapang jangka panjang tidak lagi mungkin: apa saja mode melakukan penelitian dalam waktu sekejap atau jarak jauh? Bagaimana kita dapat belajar? Bagaimana kita menjalin dan memelihara hubungan? Bagaimana kita berjuang dengan kekosongan dalam temuan kita? Ketiga, bagaimana kehidupan dan komitmen kita menuntut cara baru untuk mengumpulkan data: jenis arsip baru apa saja yang kita susun ketika kita melakukan penelitian dalam cara yang terpecah-pecah, tambal-sulam, dan kapan objek penelitian kita (ruang-ruang seperti konflik kekerasan atau jalur-jalur migrasi transnasional) merupakan susunan kepingan-kepingan, berlubang-lubang, dan kealpaan? Apa saja mode analisis dan representasi yang bersandar pada keraguan-keraguan tersebut, alih-alih menghindarinya? Keempat, bagaimanakah metode etnografi tambal-sulam memikir ulang temporalisasi pengumpulan dan analisis data? Model khas dalam penulisan mengasumsikan peneliti mengikuti sebuah garis waktu linear. Akan tetapi, di bawah tekanan publikasi, saat ini banyak peneliti menyusun analisis mereka dalam proses kerja lapang (Cerwonka and Malkki 2007). Bagaimana hal ini mengubah cara kita berpikir? Dan pada akhirnya, apakah keterlibatan dan komitmen baru yang padanya kita harus membiasakan diri dalam konteks pengiritan neoliberal dan hambatan pekerjaan, yang lebih menuntut tanggung jawab pengajaran dan administratif sebagaimana perubahan “politik ekonomi pengetahuan” (Nagar 2014)? Bagaimana kita mungkin menawarkan model atau contoh etnografi tambal-sulam pada mahasiswa dan pihak lain yang berminat pada metode ini?

Etnografi tambal-sulam menawarkan sebuah cara baru untuk mengetahui dan mengakomodasi bagaimana kehidupan peneliti dalam kompleksitas utuhnya membentuk produksi pengetahuan. Dalam proses itu, kami berpendapat bahwa pengetahuan antropologis itu sendiri yang harus diubah bentuk. Etnografi tambal-sulam membantu kita menata ulang apa yang diperhitungkan sebagai pengetahuan dan apa yang tidak, apa yang diperhitungkan sebagai penelitian dan apa yang tidak, dan bagaimana kita dapat mengubah wujud realitas yang telah digambarkan pada kita sebagai “batasan-batasan” dan “hambatan-hambatan” bagi terbukanya wawasan-wawasan baru. Kami berharap intervensi semacam ini menyediakan sebuah kerangka kerja metodologis dan perlindungan teoretis bagi mereka yang hendak memulai proyek penelitian atau lainnya yang mungkin merasa bahwa penelitiannya telah mencapai titik akhir karena alasan personal, finansial, ataupun praktis. Etnografi tambal-sulam tidak merespons eksternalitas dunia dengan tuntutan untuk lebih produktif. Namun, dia berusaha untuk mereka ulang dunia tersebut dengan menghapus kategori-kategori dan batas-batas yang sudah ada antara kehidupan personal dan profesional kita. Kami menawarkannya sebagai sebuah sumberdaya bagi sebuah dunia yang berubah setelah pandemi.

Acuan pustaka

Adams, Vincanne, Nancy J. Burke, dan Ian Whitmarsh. 2014. “Slow Research: Thoughts for a Movement in Global Health.” Medical Anthropology 33(3), 179–197.

Ahmed, Sara. 2006. “Orientations: Toward a Queer Phenomenology.” GLQ: A Journal of Lesbian and Gay Studies 12(4), 543–574.

Ahmed, Sara. 2012. On Being Included: Racism and Diversity in Institutional Life. Durham, N.C.: Duke University Press.

Amit, Vered. 2000. “Introduction: Constructing the Field.” Dalam: Constructing the Field: Ethnographic Fieldwork in the Contemporary World, diedit oleh Vered Amit, 1–18. London: Routledge.

Anjaria, Jonathan Shapiro, dan Ulka Anjaria. 2020. “Mazaa: Rethinking Fun, Pleasure and Play in South Asia.” South Asia: Journal of South Asian Studies 43(2), 232–242.

Bothwell, Ellie. 2018. “Work-Life Balance Survey 2018: Long Hours Take Their Toll on Academics.” Times Higher Education, 8 Februari.

Burawoy, Michael. 2000. “Grounding Globalization.” Dalam: Global Ethnography: Forces, Connections, and Imaginations in a Postmodern World, diedit oleh Michael Burawoy, Joseph A. Blum, Sheba George, Zsuzsa Gille, dan Millie Thayer, 337–350. Berkeley: University of California Press.

Cerwonka, Allaine, and Liisa H. Malkki. 2007. Improvising Theory: Process and Temporality in Ethnographic Fieldwork. Chicago: University of Chicago Press.

Cultural Anthropology, ed. 2018. “Academic Precarity in American Anthropology: A Forum.” Fieldsights, 18 Mei.

Cvetkovich, Aann. 2013. Depression: A Public Feeling. Durham, N.C.: Duke University Press.

Faubion, James. 2009. “The Ethics of Fieldwork as an Ethics of Connectivity, or The Good Anthropologist (Isn’t What She Used To Be).” Dalam: Fieldwork Is Not What It Used to Be: Learning Anthropology’s Method in a Time of Transition, diedit oleh James Faubion danGeorge Marcus, 145–164. Ithaca, N.Y.: Cornell University Press.

Gupta, Akhil, dan James Ferguson. 1997. “Discipline and Practice: ‘The Field’ as Site, Method, and Location in Anthropology.” Dalam: Locations, Boundaries and Grounds of a Field Science, diedit oleh Akhil Gupta dan James Ferguson, 1–46. Berkeley: University of California Press.

Haraway, Donna. 1988. “Situated Knowledges: The Science Question in Feminism and the Privilege of Partial Perspective.” Feminist Studies 14(3), 575–599.

Harrison, Faye Venetia, ed. 1991. Decolonizing Anthropology: Moving Further Toward an Anthropology for Liberation. Washington, D.C.: Association of Black Anthropologists/ American Anthropological Association.

Howell, Signe. 2017. “Two or three things I love about ethnography.” HAU: Journal of Ethnographic Theory 7(1), 15–20.

Huang, Mingwei. 2016. “Vulnerable Observers: Notes on Fieldwork and Rape.” The Chronicle of Higher Education, 12 Oktober.

Johnson, Alix. 2016. “Affect, Attention, and Ethnographic Research: Thoughts on Mental Health in the Field.” Savage Minds, 30 Maret.

Lundquist, Jennifer, and Joya Misra. 2015. “Breaking It to Your Family.” Insider Higher Ed, 4 Desember.

Marcus, George. 1995. “Ethnography in/of the World System: The Emergence of Multi-Sited Ethnography.” Annual Review of Anthropology 24, 95–117.

Matthew, Patricia. 2016. “What Is Faculty Diversity Worth to a University?” Atlantic, 23 November.

McGranahan, Carole. 2006. “Introduction: Public Anthropology.” India Review 5(3–4), 255–267.

Nagar, Richa. 2014. Muddying the Waters: Coauthoring Feminism across Scholarship and Activism. Chicago: University of Illinois Press.

Papacharissi, Zizi. 2015. “Affective Publics and Structures of Storytelling: Sentiment, Events and Mediality.” Information, Communication and Society 19(3), 307–324.

Pigg, Stacy Leigh. 2013. “On Sitting and Doing: Ethnography as Action in Global Health.” Social Science and Medicine 99, 127–134.

Pinto, Sarah. 2014. Daughters of Parvati: Women and Madness in Contemporary India. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.

Pollard, Amy. 2009. “Field of Screams: Difficulty and Ethnographic Fieldwork.” Anthropology Matters 11(2).

Robbins, Joel. 2013. “Beyond the Suffering Subject: Toward an Anthropology of the Good.” Journal of the Royal Anthropological Institute 19(3), 447–462.


Catatan: Artikel ini terbit pertama kali di rubrik Fieldsight di situs Society for Cultural Anthropology. Alih bahasa dilakukan dengan izin para penulisnya dan editor Cultural Anthropology. Alih bahasa dikerjakan Anton Novenanto, berkonsultasi dengan Hatib Abdul Kadir dan Dédé Oetomo.


%d bloggers like this: