SALON EUTENIKA #2
August 6, 2020
Hari Literasi Internasional 2020
August 29, 2020

Faizal Gamar Irvany adalah mahasiswa program studi S1 Sosiologi, Universitas Brawijaya yang sedang magang di Perkumpulan Peneliti Eutenika.

Menggelar Diskusi Buku di Kala Pandemi

Situasi krisis justru menjadi peluang untuk memberikan karpet merah terhadap investor.

Oleh: Faizal Gamar Irvany

Mengadakan diskusi buku di kala pandemi merupakan suatu hal yang baru bagi saya. Biasanya untuk mengisi waktu luang, saya mengadakan diskusi biasa dengan kawan-kawan saya atau mengikuti diskusi di forum lain secara daring. Tantangan bertambah ketika diskusi membawa nama Eutenika. Konsep diskusi tidak bisa asal membuat, atau asal jalan saja.

Perlu kematangan konsep atau substansi pokok bahasan yang nantinya berdampak pada hal-hal yang bersifat teknis. Jika konsep yang dibuat hanya “asal jalan” diskusi hanya bersifat formalitas saja. Dan diskusinya, dalam istilah Jawa ngalor-ngidul, atau tidak jelas arahnya.

Buku yang dipilih dalam diskusi kali ini berjudul Lingkungan Hidup dan Kapitalisme terbitan Marjin Kiri (2018). Buku ini membicarakan bahwasanya sifat serakah manusia yang tanpa batas tidak sesuai dengan ketersediaan ruang hidup yang terbatas.

Isi buku tersebut sangat relevan dengan kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini. Keterbatasan alam sangat tidak sesuai dengan sistem ekonomi negara kita yang masih percaya bahwa akumulasi primitif dan padat modal dapat mendongkrak perekonomian negara.

Pada sisi lain, ada dorongan sistem dari negara untuk melonggarkan pengampunan terhadap pengrusakan alam atas nama pertumbuhan ekonomi, dengan disahkannya UU Minerba dan akan dibahasnya RUU Cipta Kerja meskipun mendapat penolakan dengan digelarnya berbagai aksi.

Relevansi inilah yang pada akhirnya membuat buku ini dipilih untuk didiskusikan dan dikaitkan dengan kondisi kontemporer yang terjadi pada negara Indonesia.

Beberapa Tantangan

Tantangan yang dihadapi untuk mendiskusikan buku ini adalah, pertama, ketersediaan buku yang akan dibahas. Keberuntungan saya adalah saya sudah memiliki soft file buku ini ketika Marjin Kiri membagikan buku ini secara gratis melalui Instagram. Karena tidak mendapat jawaban dari Marjin Kiri terkait aksesibilitas buku ini pada peserta, saya hanya bisa mengirimkan buku ini kepada pemantik.

Kedua, mengundang pemantik tidak bisa sembarangan. Dalam arti, perlu ada pertimbangan latar belakang pemantik, dari akademisi atau aktivis mengingat target peserta dari diskusi ini berlatarbelakang demikian.

Ketiga, terkait platform yang akan digunakan. Pada dasarnya hal teknis yang perlu dituntaskan adalah bagaimana di kala pandemi dapat mengaplikasikan media-media yang sudah tersedia, seperti Zoom, GoogleMeet, dan lain sebagainya. Ketika saya memilih GoogleMeet sebagai platform diskusi, ini adalah pembelajaran baru. Saya akan menjadi admin tunggal dan bertanggung jawab atas hasil rekaman diskusi.

Keempat, untuk membantu jalannya diskusi ini saya meminta tolong Rahma, rekan magang saya, sebagai narahubung dan Mas Dani dari Eutenika untuk membuat poster diskusi. Saya juga meminta bantuan kawan-kawan lain untuk menyebarluaskan poster.

Saat penutupan pendaftaran, kami mendapat kurang lebih 56 pendaftar. Berkaca dari kegiatan Eutenika sebelumnya, pendaftar tersebut belum tentu mengikuti diskusi pada waktu kegiatan.

Lingkungan Hidup dan Kapitalisme

Diskusi Senin, 27 Juli 2020 dimoderatori Lutfi Amiruddin dari Prodi Sosiologi, Universitas Brawijaya. Pemantik diskusi adalah Uli Arta dan Muhammad Ridha. Peserta diskusi yang hadir sekitar 35 peserta.

Proses diskusi dimulai dengan setiap pemantik memaparkan sudut pandang masing-masing dari aktivis dan akademisi.

Mbak Uli memaparkan kutipan dalam buku tersebut bahwa ketika membayangkan kehancuran lingkungan hidup akan lebih mudah dibandingkan membayangkan kapitalisme runtuh. Menurut Mbak Uli, Pilkada tahun ini bisa jadi membuktikan praktik-praktik ijon politik dilakukan agar dapat melanggengkan kekuasaan.

Mendengar itu saya sempat berfikir jika kapitalisme akan terus langgeng, jika mereka terus menjilat kekuasaan, situasi krisis justru menjadi peluang untuk memberikan karpet merah terhadap investor. Paparan Mas Ridha dari perspektif akademisi menguatkan hal itu dengan data ketimpangan ekonomi.

Data statistik orang terkaya di Indonesia sebagian besar memiliki perusahaan yang berkaitan dengan perkebunan. Artinya, oligarki kekuasaan di masa reses atau ketika masa pandemi dapat memudahkan akses mereka untuk dapat mengembalikan pertumbuhan ekonomi, bukan untuk rakyat, tetapi untuk korporasi.

Peserta diskusi juga membahas terkait sistem, baik sistem ekonomi maupun politik yang berkaitan dengan kondisi lingkungan hari ini.

Tidak banyak peserta yang merespons diskusi ini membuat perlu ada evaluasi agar pembahasan dapat jadi lebih menarik. Ini menjadi pelajaran bagi saya bahwa dalam mereproduksi pengetahuan perlu landasan konseptual dan susunan teknis perlu perencanaan yang matang, supaya mendapatkan diskusi pembahasan materi yang maksimal. (*)

%d bloggers like this: