Menjaga Jarak di Usia Senja
July 18, 2020
Lingkungan Hidup & Kapitalisme
July 27, 2020

Gadi Makitan adalah editor di sebuah media daring di Jakarta, tinggal di Tangerang.

Anton Novenanto adalah dosen & peneliti di Jurusan Sosiologi, Universitas Brawijaya; Direktur Eksekutif Perkumpulan Eutenika.

New Marginals, Old Marginals

Infodemi & Habitus Informasi

Infodemi bukanlah soal ketiadaan informasi, namun “terlalu banyak” informasi spekulatif membanjiri kanal-kanal informasi.

Oleh: Gadi Makitan & Anton Novenanto

Saat ini, kita tengah menghadapi dua bencana sekaligus: infodemi dan pandemi. Tulisan ini akan membahas bencana yang pertama. Ide penulisan artikel ini berangkat dari pengamatan lapang salah satu dari kami, Gadi Makitan, saat mengamati keadaan sekitar tempat tinggalnya di Tangerang. Berikut catatan lapangnya,


“Di sini, orang yang masih menggunakan masker bisa dihitung dengan jari. Sisanya, beraktivitas seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa.

Ketika sore menjelang, jalan di depan rumahku dipenuhi tetangga-tetangga yang membawa keluar balitanya untuk bermain. Kadang mereka bertanya kepadaku, kenapa tidak membawa bayiku yang berumur 10 bulan keluar rumah untuk bermain. Aku berkilah anakku sedang dimandikan, atau sedang tidur, atau alasan lain.

Sebenarnya, aku memang enggan membawa anakku keluar. Soalnya, aku khawatir. Mereka yang berkumpul tidak menggunakan masker. Aku tidak tahu dengan siapa saja mereka sebelumnya bertemu. Aku tidak bisa memastikan mereka tidak membawa virus.

Virus itu masih ada di luar sana. Kenapa mereka begitu percaya diri dengan tidak lagi menjalankan protokol kesehatan?”


Gadi bekerja sebagai editor media sosial di sebuah perusahaan pemberitaan daring. Dengan pekerjaan itu, tiada hari berlalu tanpa mengkurasi berita soal Covid-19. Dia tahu, pandemi belum selesai, virus masih bisa menjangkiti siapa saja.

Apalagi tingkat kematian akibat Covid-19 termasuk yang cukup tinggi di Indonesia. Data 7 Juli menyebutkan bahwa menyebutkan angka tersebut mencapai 4,997%, sedikit lebih tinggi daripada tingkat kematian global (4,674%).[1] Bisa dimaklumi adanya rasa khawatir yang cukup tinggi bila anaknya terjangkit Covid-19.

Ilustrasi infodemi dari WHO (Sumber foto: www.who.int)

Bahaya Infodemi

Patut kita catat bahwa sebulan sebelum mengumumkan wabah Covid-19 sebagai pandemi, pada 2 Februari, WHO mengumumkan ikhwal infodemi seputar Covid-19 sebagai sebuah ancaman yang harus diantisipasi.[2] Dalam laporan yang sama itu, WHO mendefinisikan infodemi sebagai:

“an over-abundance of information – some accurate and some not – that makes it hard for people to find trustworthy sources and reliable guidance when they need it.”

[sebuah luapan informasi – beberapa akurat dan beberapa tidak – yang menyulitkan orang untuk menemukan sumber yang dapat dipercaya dan panduan yang dapat diandalkan saat mereka membutuhkannya.]

Pernyataan WHO itu dilatari banyaknya rumor dan spekulasi yang beredar soal wabah baru yang dideteksi di Wuhan, Tiongkok dan menyebar ke seluruh dunia. Pada saat itu, wabah ini merupakan “wilayah pengetahuan” yang masih sangat baru sehingga belum banyak yang bisa diketahui baik oleh publik ilmiah dan awam.

Infodemi bukanlah sebuah situasi tentang ketiadaan informasi, namun sebaliknya “terlalu banyak” informasi spekulatif beredar dan membanjiri pelbagai kanal informasi yang ada.

Memasuki bulan keempat WHO mengumumkan pandemi Covid-19 dan lebih banyak informasi tentangnya beredar, infodemi masih terus berlangsung. Kita bisa melihat luapan informasi yang sulit dibuktikan akurasinya dalam bentuk terus beredarnya teori konspirasi, pendapat-pendapat tanpa dasar pembuktian ilmiah, atau saran-saran menangkal Covid-19 dengan cara-cara yang belum terbukti.

Terbaru, klaim dari Pemerintah Indonesia bahwa virus korona bisa ditangkal dengan memakai kalung khusus berbahan dasar eukaliptus. Belakangan Kementrian Pertanian, produsen kalung itu, mengklarifikasi bahwa kalung itu belum bisa diklaim sebagai antivirus, baru sebatas jamu.[3]

Infodemi menguji kekuatan ikatan sosial yang direkatkan oleh kesaling-percayaan antar anggotanya, suatu pola yang terulang dalam marabahaya yang lain.[4] Tak menutup kemungkinan, ujung akhir dari bencana ini adalah perpecahan dalam masyarakat yang dimulai dari munculnya kecurigaan dan merenggangnya kepercayaan antar-anggota dalam masyarakat, seperti yang disampaikan dalam cerita di awal tulisan ini.

Benih-benih kerenggangan dan kecurigaan itu bisa terlihat pada caci-maki warganet melihat orang-orang yang tertangkap kamera tak menjalankan protokol kesehatan dengan sengaja dan tanpa rasa bersalah.[5] Inilah bahaya infodemi. Kita berhadapan dengan efek kuasa dari informasi yang dilepaskan pada publik, tak peduli apakah informasi itu benar, terdistorsi, atau keliru sama sekali.

Habitus Informasi

Bencana besar akibat infodemi ini hanya bisa dicegah saat individu atau kelompok sosial memiliki kapasitas yang mumpuni untuk mengelola informasi. Kapasitas ini bisa kita sebut sebagai habitus informasi.

Pierre Bourdieu

Terma habitus kita adopsi dari pemikiran ilmuwan sosial multitalenta asal Prancis, Pierre Bourdieu yang mendefinisikannya sebagai,

“a system of disposition, that is of permanent manners of being, seeing, acting and thinking, or a system of long-lasting (rather than permanent) schemes or schemata or structures of perception, conception and action.”[6]

[sebuah sistem disposisi, yaitu pelbagai sikap permanen untuk menjadi, melihat, bertindak dan berpikir, atau sebagai sistem skemata atau struktur jangka-panjang (alih-alih permanen) dari persepsi, konsepsi dan tindakan.]

Dengan demikian, kita mengartikan habitus informasi sebagai sebuah sistem disposisi atau sistem skemata atau struktur jangka panjang yang bekerja pada diri seseorang dalam menyikapi informasi.

Mengikuti Bourdieu, habitus bukanlah sesuatu yang alamiah. Dia adalah seperangkat karakter yang dicapai dalam kondisi-kondisi sosial tertentu. Oleh karenanya, pada sekelompok orang dalam kondisi sosial yang sama akan cenderung sama sepenuhnya atau sebagian saja.[7]

Disposisi-disposisi ini bersifat jangka panjang bahkan mereproduksi dirinya sendiri, tapi bukan berarti tak bisa diubah. Dengan kata lain, habitus seseorang dapat dibentuk dan dibentuk ulang melalui sebuah latihan berulang-ulang dan terus-menerus, jangka panjang. Persoalannya, menurut Bourdieu, kesempatan untuk mengalami latihan-latihan semacam itu ditentukan oleh dua jenis modal: modal ekonomi (economic capital) dan modal budaya (cultural capital). Keduanya berpengaruh pada pembentukan habitus informasi.

Fakta bahwa tidak semua orang terlatih dan dibekali dengan habitus informasi bisa jadi bukan karena mereka tidak tahu dan tidak bisa melakukannya tapi lebih karena mereka tidak pernah punya peluang dan kesempatan untuk melatih dirinya dalam hal pengelolaan informasi.

Habitus informasi merupakan suatu kapasitas yang dilatihkan pada, dan kemudian menjadi keterampilan dari, orang-orang dari kelas sosial tertentu, yaitu mereka dengan ekonomi mapan dan berpendidikan tinggi. Kelas ini membutuhkan informasi sebagai aset utama bagi akumulasi kapital ekonomi dan budaya. Kemampuan mengendalikan dan menguasai informasi dalam situasi darurat merupakan modalitas utama untuk mengendalikan persepsi, konsepsi dan tindakan masyarakat.[8]

Bagi kelas sosial lain, kesempatan melatih diri untuk terbiasa dengan rangkaian kegiatan mencari, menyeleksi, mengonsumsi, dan mereproduksi informasi berkualitas bukan sekadar sesuatu yang berjarak, tapi juga mungkin tak pernah terbayangkan penting dan bisa dilakukan. Habitus informasi bukan hanya sesuatu yang berjarak, namun juga sesuatu yang istimewa.

Dalam piramida kebutuhan, kelas sosial tanpa habitus informasi tidak melihat informasi berkualitas sebagai kebutuhan primer dalam menghadapi pandemi ini. Kebutuhan primer bagi kebanyakan orang masih saja terkait pada urusan perut dan melunasi tagihan-tagihan rutin (seperti listrik, air, dan, tentu saja, hutang).

Pandemi memaksa banyak orang berhadapan pada kenyataan pahit tentang berkurangnya pendapatan sampai hilangnya pekerjaan pemenuhan kebutuhan hidup dasar menjadi semakin sulit. Dalam situasi ini, informasi berkualitas (dan berbayar) tentang Covid-19 menjadi sesuatu yang semakin tak terjangkau lagi.

Bencana Ganda

Bencana ganda, infodemi dan pandemi Covid-19, yang kita alami saat ini tidak hanya memelihara kesenjangan sosial dalam masyarakat, tapi juga memperluas jurang antara kelas sosial yang ada.

Pada satu sisi, ada kelas sosial yang mampu bertahan menghadapi infodemi karena sebelumnya sudah terlatih dengan habitus informasi, dan ditopang dengan kondisi kapital ekonomi yang mapan, cenderung dapat bertahan dengan modal budaya, pengetahuan tentang Covid-19. Pada sisi lain, ada kelas sosial yang karena tidak pernah terlatih untuk mengelola informasi harus menjadi korban dari infodemi Covid-19. Situasi ini berkelindan dengan kerentanan ekonomi akibat menurunnya pendapatan.

Infodemi menghantam mereka yang tak pernah terlatih dengan habitus informasi. Kerentanan informasi dapat dilihat dari kapasitas seseorang dalam memunculkan imunitas terhadap luberan misinformasi dan disinformasi. Infodemi jelas berpotensi menjadi bencana bagi banyak orang yang tidak terbiasa dengan mengelola informasi.

Dengan demikian, ancaman yang juga mengkhawatirkan bukan hanya soal kerentanan fisik seseorang agar dapat bertahan dari virus Covid-19 dan penyakit lainnya, namun juga lemahnya kapasitas dalam melakukan pencarian, seleksi dan distribusi informasi tentang apa yang terjadi.

Banjir informasi, benar atau salah, tentang perkembangan terbaru pandemi Covid-19 merupakan ancaman serius. Tidak hanya bagi suatu kelompok untuk tertular ataupun menularkan wabah ke orang lain, tapi juga bagi solidaritas sosial suatu masyarakat. (*)


Acuan pustaka:

[1] Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, “Infografis COVID-19 (07 Juli 2020),” covid19.go.id (Jakarta, 7 Juli 2020), https://covid19.go.id/p/berita/infografis-covid-19-07-juli-2020.

[2] WHO, “Novel Coronavirus (2019-nCoV): Situation Report – 13” (Geneva, 2 Februari 2020), https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200202-sitrep-13-ncov-v3.pdf?sfvrsn=195f4010_2.

[3] Haris Prabowo, “Mentan SYL soal Kalung Anti Corona: ‘Saya Enggak Boleh Ngomong,’” Tirto.id, 7 Juli 2020, https://tirto.id/mentan-syl-soal-kalung-anti-corona-saya-enggak-boleh-ngomong-fPdr.

[4] Lih. Anthony Oliver-Smith, “Theorizing disasters: nature, power, and culture,” dalam Catastrophe and Culture: the Anthropology of Disaster, ed. oleh Susanna M. Hoffman dan Anthony Oliver-Smith (Santa Fe & Oxford: School of American Research & James Currey, 2002), 23–47.

[5] kumparan.com, “Massa Jemput Paksa Jenazah Positif Corona,” Instagram, 7 Juli 2020, https://www.instagram.com/p/CCVcbSFHotv/.

[6] Pierre Bourdieu, “Habitus,” dalam Habitus: A Sense of Place, ed. oleh Jean Hillier dan Emma Rooksby (Aldershot: Ashgate Publishing, 2002), 27, penekanan sesuai aslinya.

[7] Bourdieu, 29.

[8] Gregory V. Button, Disaster Culture: Knowledge and Uncertainty in the Wake of Human and Environmental Catastrophe (Walnut Creek: Left Coast Press, 2010).


Catatan ini merupakan bagian dari etnografi tambal-sulam dalam proyek penelitian “New Marginals, Old Marginals in the Age of COVID-19”. Bila Anda tertarik untuk bergabung, silakan kirim pesan ke info[a]eutenika.org.

%d bloggers like this: