Mempertahankan pembangunan di sebuah lingkungan secara kompromistis merupakan pengganti yang buruk bagi usaha merehabilitasi ekosistem yang terdegradasi dan mendorong praktik keanekaragaman hayati.
Category: Ekologi
Memutus Rantai Pembangunan
Jika “kebangkitan” dilihat dari angka PDB, maka hal tersebut tidak mencerminkan realitas obyektif dari warga karena angka tersebut ditentukan sebagian besar oleh ekspor bahan mentah dari sektor ekstraktif.
Peralihan-peralihan Peradaban
Kini sedang bangkit sebuah gerakan beragam dan majemuk yang menyerukan akhir dari dominasi Eurosentris dan antroposentris, sebagai konsekuensi dari kelemahan, kegagalan, dan bahkan kengerian dari dominasi tersebut.
Pembangunan untuk “1 Persen”
Kekerasan maskulin beroperasi untuk melayani produksi keuntungan para kapitalis. Orang miskin semakin miskin karena pemerintahan dibajak oleh “kelompok 1 persen” yang melancarkan agenda akumulasi keuntungan melalui kebijakan privatisasi.
Melihat Songgoriti “Dari Dalam”
Lingkungan Songgoriti bermula dari keresahan para pemuda di Songgoriti terkait stigma negatif yang dilekatkan banyak orang pada kampungnya. Salah satu upaya melawan stigma tersebut adalah memproduksi narasi alternatif tentang kampungnya dari sudut pandang berbeda.
Kasus Lumpur Lapindo dalam Bingkai “Kapitalosen”
Bencana dilihat sebagai ancaman serius terhadap akumulasi kapital dan oleh karenanya penyelenggara negara harus bekerja untuk menjamin agar proses akumulasi kapital tidak terganggu oleh kejadian bencana dengan langkah-langkah pengurangan risiko dan dampaknya.
Privatisasi dan Komodifikasi: Ekoturisme sebagai Ekspansi Kapitalis di Sumatra, Indonesia
Ekoturisme merupakan kegiatan transformatif yang melalui itulah komoditas hidup menghasilkan nilai dan dari situlah jenis produksi nilai ini juga memproduksi dan mempertahankan alam tawan (captive nature). Sejumlah kegiatan ekoturisme yang ada mencakup susur hutan, melihat satwa liar, susur gua, melihat burung, berkemah, kegiatan-kegiatan budaya, dan arung jeram.
Catatan Diskusi Buku “The Culture of Disaster”
Wabah menjadi bagian dari keresahan masa lalu, sekaligus penanda keresahan eksistensial manusia saat ini.
Dari “Commons” ke Ekstraktivisme, dan Perlawanannya: Cerita Sungai Mahakam
Kompleksitas persoalan membentuk karakter buas sebuah kota yang melayani industri ekstraktif sementara mengeksploitasi manusia dan alamnya. Tidak banyak ruang yang tersisa untuk penduduk kota: orang-orang menetap di sudut-sudut kota, “ruang-ruang tersisa”, yang mungkin direncanakan, mungkin ditinggalkan. Beberapa wilayah tanpa surat-surat memiliki hak kepemilikan yang lemah, dan mungkin dapat digusur kapan saja.