Jimat dan Lelucon Covid-19

Jimat bukanlah lelucon. Lelucon yang sebenarnya justru dimunculkan oleh pejabat dan tokoh masyarakat kita.
politik - ekologi - teknologi
politik - ekologi - teknologi

Jimat bukanlah lelucon. Lelucon yang sebenarnya justru dimunculkan oleh pejabat dan tokoh masyarakat kita.

Tuntutan melakukan perubahan mendadak membuka mata kita terhadap beragam fakta tentang pembangunan yang timpang. Sesuatu yang mungkin baru disadari dampaknya saat kita beralih dari tatap muka ke tatap layar.

Tenaga kesehatan menjadi garda terdepan melawan pandemi. Berita tentang para pejuang di garda depan yang gugur karena Covid-19 membawa ketakutan.

Pandemi memperburuk kondisi kelompok yang sebelumnya sudah termarjinalkan, bahkan menyeret anak muda, yang sedang memperlihatkan kegagahan mereka sebagai perantau, menjadi kelompok rentan.

Kami menawarkannya sebagai sebuah sumberdaya bagi sebuah dunia yang berubah setelah pandemi. Etnografi tambal-sulam memperluas pemahaman tentang material, perangkat, objek yang dapat digunakan dalam analisis.

Struktur sosial yang timpang ini menjadikan masyarakat kita sesungguhnya rentan (vulnerable) terhadap goncangan sosial, krisis ekonomi dan gejolak politik.

Menjaga pertemanan, kepedulian, keintiman adalah demi bertahan di tengah kejamnya kompetisi pasar bebas.

Sistem politik tertutup tidak memungkinkan transparansi. Pemerintah menjadi satu-satunya sumber informasi.

Ketidakjelasan pemerintah Indonesia tentang situasi COVID-19 di negaranya bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Itu mungkin berasal dari ketidaktahuan pemerintah tentang cara mengelola pandemi ini.

Melalui etnografi, konsep dan teori filsafati yang susah dicerna dapat dijelaskan dengan bukti empirik. Narasi gamblang mengungkapkan krisis lingkungan akibat prinsip ekonomi neoliberalisme. Krisis lingkungan ini merugikan perempuan, petani gurem, nelayan, masyarakat adat, ras/etnis minoritas, dan alam itu sendiri yang seharusnya juga punya hak asasi untuk hidup.