A research project

Media, Budaya dan Pandemi

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat anggota masyarakat dapat memperoleh beragam informasi secara simultan tanpa lagi memperhitungkan batas-batas ruang dan waktu konvensional. Kondisi semacam ini semakin membuktikan apa yang disampaikan Stuart Hall[1] bahwa subjek penerima pesan tidak pernah pasif mengonsumsi kode-kode yang dihadirkan padanya tapi justru sangat aktif memproduksi, mendistribusikan dan mereproduksi pesan-pesan baru dari segala kode yang diterimanya.

Saat ini, subjek menjadi semakin leluasa dalam menyebarluaskan dan mereproduksi informasi yang didapatkannya baik yang sudah maupun belum terbukti akurasinya. Saat pandemi Covid-19 melanda, luberan informasi yang simpang-siur membanjiri pelbagai kanal dan membuat kita semakin sulit untuk mengambil keputusan rasional, bijak, dan strategis untuk mengatasi krisis yang terjadi. World Health Organization (WHO)[2] menyebutkan “infodemi” sebagai sebuah ancaman serius bagi segala langkah dan upaya mengatasi wabah yang dampaknya dialami dan dirasakan oleh umat manusia di seluruh dunia.

Beberapa pakar kesehatan masyarakat di dunia melihat persoalan sosial yang disebabkan oleh infodemi ini bisa jadi justru lebih serius bila dibandingkan dengan wabah Covid-19.[3] Infodemi menyebar lebih cepat dari pandemi itu sendiri.

Penelitian ini berusaha mendokumentasikan dampak dari infodemi tentang pandemi Covid-19 untuk dapat mencari akar permasalahan struktural dan kultural yang menjadi basis dan pendorong bagi terjadinya infodemi terkait pandemi Covid-19 dan merumuskan model strategi komunikasi krisis dalam mengatasi bencana ganda (infodemi dan pandemi) yang terjadi.

Penelitian ini menggunakan metode "mendengarkan narasi' melalui survei, wawancara dan diskusi kelompok yang akan dilakukan secara daring. Hasil penelitian ini akan disampaikan secara berkala dalam bentuk publikasi artikel populer, diskusi publik, dan jurnal ilmiah.


[1] Stuart Hall, “Encoding, Decoding,” in The Cultural Studies Reader, ed. oleh Simon During (London; New York: Routledge, 2001), 507–17.

[2] WHO, “Novel Coronavirus (2019-nCoV): Situation Report - 13” (Geneva, 2 Februari 2020), https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200202-sitrep-13-ncov-v3.pdf?sfvrsn=195f4010_2.

[3] Joana Gonçalves-Så, “In the fight against the new coronavirus outbreak, we must also struggle with human bias,” Nature Medicine 26 (9 Maret 2020): 305.


  • Kita Belum Pernah Normal
    Krisis yang tengah kita alami saat ini tidak disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, tapi akibat rentannya sistem, jaminan dan infrastruktur kesehatan masyarakat di republik ini.