Perang Senyap
June 5, 2020
50 Tahun Rekayasa Sosial
June 10, 2020

Waktu & tempat

Senin, 8 Juni 2020, 14.00-17.00 WIB via Zoom.

Transkripsi diskusi dapat diunduh di sini.


Arsip Webinar

Migrasi, Urbanisasi dan Pandemi


Untuk kesekian kalinya, peradaban manusia harus menghadapi krisis dan, meminjam istilah sosiolog Niklas Luhmann (1993), “menyintas bersama yang tidak diketahui” (coping with the unknown). Kita adalah saksi sejarah dari krisis terbesar yang pernah menghantam peradaban manusia.

Ketika WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global, beberapa ahli menggagas kemungkinan hubungan antara urbanisasi dan penyebaran virus ini. Para ahli mengatakan bahwa kepindahan virus dari lingkungan alam ke tubuh manusia dan juga binatang lainnya dipicu oleh aktivitas manusia, khususnya praktik pertanian modern dan urbanisasi.

Sampai anti-virus ataupun vaksin ditemukan, cara paling efektif untuk mencegah terjadinya zoonosis patogenik akibat virus jenis apapun, menurut artikel itu, adalah menjaga keseimbangan kehidupan alamiah dan masyarakat manusia. Logika yang coba disampaikan: apabila manusia tidak mengganggu alam, alam tidak akan balik mengganggu manusia. Logika ini bertentangan dengan logika masyarakat modern yang cenderung mereduksi hubungan manusia dan alam dalam relasi satu-arah. Manusia menguasai dan mengendalikan alam untuk kepentingan dan tujuan rasionalnya.

Dinamika kota, kata sosiolog Amerika Serikat Lewis Mumford (1961), ditentukan oleh dua aktivitas dasar manusia: bermukim dan bermigrasi. Sejak 1970an, filsuf Prancis Henri Levebfre mengkritisi laju urbanisasi sebagai gerak satu-dimensi kapitalisasi ruang-ruang publik. Ahli perkotaan Neil Brenner (2017) menyebutkan arah kebijakan urbanisasi sejak 1970an diwarnai dengan semakin kuatnya gerak neoliberalisasi di seluruh kota di penjuru bumi.

Kita telah menyaksikan dan mungkin menjadi bagian dari penyesuaian regulasi-regulasi untuk memprioritaskan kebijakan yang berbasis, berorientasi, ataupun dikendalikan oleh mekanisme pasar bebas. Prinsip dasar dari neoliberalisasi adalah menjamin optimalisasi komodifikasi segala aspek bidang kehidupan manusia, termasuk kesehatan dan ruang publik, dengan segala risikonya. Alih fungsi lahan terbuka hijau menjadi kawasan permukiman semakin masif.

Harus diakui, neoliberalisasi telah menjadi sebuah sindrom global. Gejala yang dimunculkan cenderung sama: menjamin kesinambungan proses komodifikasi dan pemasaran segala urusan manusia, entah itu bersifat publik atau privat, melalui regulasi negara. Neoliberalisasi kawasan perkotaan memicu melebarnya kesenjangan antara kota-kota di dunia. Pusat-pusat baru berkembang, seiring dengan pertumbuhan kawasan pinggiran-pinggiran baru.

Masa-masa menjalani apa yang disebut IMF sebagai “the Great Lockdown” adalah waktu paling tepat untuk merefleksikan pelbagai konsekuensi dari laju urbanisasi neoliberal pada kehidupan dan dinamika sosial-ekologi. Sejarah sudah menunjukkan bahwa dunia pernah diterjang pelbagai macam krisis sebelumnya. Namun, baru SARS-CoV-2 yang “berhasil” menghentikan sejenak denyut nadi kapitalisme global yang melaju tanpa terkendali.

Bagaimana migrasi dan urbanisasi berkontribusi pada pandemi ini? Bagaimana struktur dan relasi pusat-pinggiran berkontribusi pada pandemi ini? Apa saja struktur dasar dari politik migrasi dan urbanisasi yang terkena dampak dari pandemi ini? Apa dampak pandemi ini pada struktur dan relasi pusat-pinggiran? Sampai titik apa pandemi ini akan mengubah orientasi politik migrasi dan urbanisasi? Apakah perubahan itu hanya pada kemasan dan isinya saja, sementara semangat (neoliberalsiasi) tetap sama? Sementara kota-kota di dunia meminta warganya untuk berdiam diri, apakah konsekuensi dari imobilitas global bagi urbanisasi? Apakah imobilitas itu berdampak ada rekonfigurasi struktur dan relasi pusat-pinggiran?

Narasumber
  1. Mobilitas dan Pandemi dalam Teropong Teori “Risk Society” oleh Dr. phil. Vissia Ita Yulianto. [ppt]
  2. Pandemi, Migrasi, dan Transformasi Sosial Kita oleh Dr. Riwanto Tirtosudarmo. [ppt] [makalah]
  3. Urbanisasi dan Covid-19 oleh Dr. Rita Padawangi. [ppt]
Moderator

Dr. Hatib Abdul Kadir (Prodi Antropologi & CCFS, Universitas Brawijaya; co-founder Eutenika)

Kegiatan ini adalah kerjasama Perkumpulan Peneliti Eutenika dan Pusat Studi Budaya dan Laman Batas, Universitas Brawijaya.

Transkripsi diskusi dapat diunduh di sini.

Video rekaman Webinar: Migrasi, Urbanisasi dan Pandemi


%d bloggers like this: