Respons Kultural atas Pandemi
May 6, 2020
Tiongkok Pasca-Pandemi
May 21, 2020
Seri Diskusi Daring Perkumpulan Eutenika

Waktu & tempat

Rabu, 20 Mei 2020, 15.00-17.00 WIB via Zoom.

Catatan diskusi bisa dilihat di sini.

Transkrip diskusi bisa diunduh di sini.


Re-reading Globalization: China & COVID-19


Ketika WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global, orang berpikir mengenai dampak globalisasi pada penyebaran virus ini dan, vice versa, dampak pandemi ini pada globalisasi. Pandemi ini memaksa semua negara mengambil tindakan luar biasa untuk menjaga kesehatan masyarakat dan keamanan negara. Kebijakan untuk menjaga jarak fisik/sosial membuat semua orang harus melakukan semua kegiatan publiknya di rumah, sekolah dan tempat-tempat umum ditutup, pergerakan lintas batas wilayah di dalam dan dengan luar negeri dibatasi atau bahkan ditutup. Secara global, COVID-19 telah membuat sebagian besar sistem dan rantai perdagangan global terhenti, demikian juga gangguan terhadap globalisasi ekonomi. 

Perubahan besar lain adalah bergesernya peran tata kelola global dan kerjasama internasional. Negara-negara cenderung melakukan penanganan sendiri-sendiri sejalan dengan lemahnya kepemimpinan WHO dalam penanganan pandemi ini. Di Eropa yang unifikasinya mengalami kemajuan pesat beberapa dekade belakangan, negara-negaranya menutup perbatasan, dan melarang ekspor alat-alat kesehatan seperti masker bahkan ke sesama negara Uni Eropa. Integrasi regional dan tata kelola global yang berjaya mulai akhir abad 20 dan awal abad 21 mulai tergeser oleh negara yang menjadi aktor dominan dalam penanganan krisis global, khususnya pandemi kali ini. 

Di tengah gaduh pandemi ini, Tiongkok adalah negara pertama yang melakukan penanganan dan pencegahan atas penyebaran virus ini. Kasus pertama dideteksi di salah satu kotanya, Wuhan di Provinsi Hubei, pada Desember 2019. Tiongkok merespon cepat persebaran virus ini dengan menutup  akses keluar masuk Wuhan dan beberapa kota lain di Provinsi Hubei, serta dalam waktu kurang dari dua minggu membangun rumah sakit khusus untuk menampung pasien terjangkit virus ini. 

Keterlibatan Tiongkok dalam komunitas global memang makin besar belakangan ini, sebelum pandemi terjadi. Baik sebagai agen internasional maupun melalui programnya sendiri seperti One Belt One Road Initiatives, Tiongkok terus mengembangkan prestise dan kekuatan bangsanya. Pandemi COVID-19 ini menjadi instrumen juga bagi Beijing untuk nendorong prestise dan pengaruhnya di level internasional. Tiongkok juga memberikan bantuannya pada negara-negara lain untuk menangani pandemi ini, seperti: menyumbang alat tes COVID-19 ke Kamboja; mengirim ventilator, masker dan alat kesehatan ke Italia dan Perancis; dan, berkomitmen membantu Filipina, Spanyol, bahkan Irak dan Iran.

Tiongkok juga bekerja sama dengan WHO dalam penanganan virus ini, melakukan misi bersama atas COVID-19 dalam hal membuat kajian-kajian mengenai dinamika transmisi virus dan perkembangan penyakitnya, melakukan pengawasan intensif terhadap persebaran virus di wilayahya dan bahkan melaporkan analisis genetik sekuen dari virus ini sejak awal teridentifikasi di Tiongkok. Menguatnya kolaborasi Tiongkok dan WHO mendapat kritik dari Amerika Serikat, yang sebaliknya, semakin menjauh dari kerangka kerjasama global dalam penanganan pandemi ini. Tiongkok bahkan mengizinkan WHO menyelidiki penanganan COVID-19 setelah pandemi berakhir. Sebaliknya, Amerika Serikat justru menuduh WHO terlalu dekat dengan Tiongkok, bahkan Trump menuduh keduanya memanipulasi data COVID-19. Tiongkok kemudian menolak Amerika Serikat terlibat dalam penyelidikan COVID-19 di negaranya karena dianggap selalu melakukan politisasi atas isu ini. Hubungan Tiongkok-Amerika Serikat semakin jauh, dan ini tidak membantu penanganan global pandemi ini. Padahal kolaborasi keduanya selama 2003-2012 berkontribusi besar dalam penanganan SARS dan  H5N1. 

Seri Diskusi Daring #5 Eutenika “Re-reading Globalization: China and Covid-19” bermaksud untuk melihat bagaimana keterkaitan pandemi COVID-19 dan globalisasi? Bagaimana kondisi ini mengubah wajah globalisasi? Apakah perubahan-perubahan yang terjadi memperkuat proses deglobalisasi?

Terdapat dua kondisi yang menjadi konteks pandemi ini menghantam ekonomi dunia di awal tahun ini. Pertama, sebagian pengamat melihat Tiongkok adalah negara yang dalam gerak aktifnya dalam komunitas global, sebetulnya secara sepihak melakukan deglobalisasi pada arus perdagangannya. Nilai ekspor Beijing ke seluruh negara semakin besar, namun di sisi lain membatasi impornya. Rencana Made-in-China 2025 adalah mekanisme deglobalisasi dengan mengurangi pembelian Tiongkok atas produk-produk negara lain. Kedua, pandemi ini terjadi pada masa perang dagang Amerika Serikat atas Tiongkok. Meski tidak secara langsung berpengaruh terhadap globalisasi, namun penerapan tarif 25% pada produk impor Tiongkok oleh Amerika Serikat menyebabkan penurunan nilai perdagangan dunia sejak tahun lalu. Masa depan globalisasi sudah dipertanyakan sejak perang dagang AS-Tiongkok terjadi. 

COVID-19 memaksa 212 negara menutup pintu dan mengandalkan diri sendiri untuk bertahan dari virus SARS-CoV-2. Sebagian pengamat melihat pandemi ini tidak akan mengurangi ketergantungan global pada Tiongkok karena negara ini menguasai 20% produksi manufaktur global. Sekalipun dua per tiga ekonomi Tiongkok terhenti akibat pandemi, Tiongkok berhasil melewati gelombang pertama wabah ini, sementara negara-negara industri Barat sedang pada masa puncak wabah. Beberapa mungkin bertahan, namun mereka harus menunggu ekonomi global kembali berjalan normal.

Narasumber

  • Nur Rachmat Yuliantoro (Ketua Departemen Hubungan Internasional, UGM)
  • Dewa Ayu Putu Eva Wishanti (Ph.D Candidate, University of Leeds)
  • J. Casey Hammond (Pengamat Hubungan China-ASEAN)

Moderator

Dian Mutmainah (co-founder Eutenika; dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya)

Tujuan

  • Mencermati keterkaitan pandemi COVID-19 dan globalisasi.
  • Mengurai peluang bagi ‘deglobalisasi’ pasca pandemi.
  • Membahas peluang menguatnya Tiongkok sebagai salah satu kutub politik-ekonomi dunia dan pengaruhnya terhadap Indonesia.

%d bloggers like this: