Menyambut pandemi baru
March 29, 2020
Komunikasi Bencana COVID-19
April 7, 2020

Melacak koronavirus – 5

Tuntutan kolaborasi dan keterbukaan

Keterbukaan atas informasi dan usaha kolaboratif memperkuat kapasitas anggota masyarakat, khususnya di level lokal, adalah yang utama untuk meredam kepanikan dalam situasi pandemi. Kekhawatiran terbesar adalah infrastruktur dasar yang buruk, khususnya di bidang kesehatan.

Oleh: Anton Novenanto

[sebelumnya]

Normalitas baru di era media sosial

Seperti disampaikan pada tulisan sebelumnya, kita telah memasuki sebuah situasi “normal baru”. Kondisi ini terkait erat pada urbanisasi, pertumbuhan penduduk, mobilitas global, alih fungsi lahan, perubahan iklim dan krisis politik. Dalam normalitas baru ini, ada kebutuhan untuk memperbaiki cara dan sikap menghadapi wabah.

Penggunaan media sosial sebagai medium komunikasi dan diskusi waktu-sebenarnya memicu ketertarikan publik untuk mengikuti analisis data dan komentar-komentar para ahli tentang hal baru ini. Untuk itu, pengaturan-diri menjadi penting untuk memelihara rasa saling percaya. Joana Gonçalves, seorang peneliti berbasis di Portugal, menyampaikan persoalan serius dalam memahami wabah di era media sosial: bias kognitif yang dimanfaatkan oleh mesin algoritma.[1]

Selama puluhan tahun, ilmuwan, dokter, jurnalis dan ahli komunikasi bekerja keras untuk mewujudkan demokratisasi pengetahuan, partisipasi warga, dan masyarakat yang lebih kritis. Jejaring (berbasis-media) sosial diharapkan dapat memfasilitasi dan bahkan memperluas proses itu. Akan tetapi, Gonçalves melihat hasil dari usaha itu adalah “sebuah masyarakat yang terlalu kritis dengan banjir informasi tapi, sayangnya, tidak berpengetahuan luas.”[2]

Pada bulan Januari 2020 saja, sudah lebih dari 15juta postingan di Twitter tentang gejala ini. Hingga kini, yang paling menjadi perhatian adalah pandangan teori konspirasi tentang bio-terorisme.[3] Ada pihak yang menuduh bahwa virus ini sengaja dibuat oleh pemerintah China sebagai untuk tujuan politik atau ekonomi tertentu. Sementara itu, pemerintah China membalas tuduhan itu dengan mengatakan bahwa virus ini dibuat dan disebarkan oleh intelejen Amerika Serikat untuk menahan laju penguatan China sebagai kutub politik-ekonomi baru di bumi ini. Klaim-klaim ilmiah pun dicomot untuk mendukung teori itu. Segala hal yang berbau ilmiah, yang tidak dipercaya oleh para ilmuwan, dimunculkan.

Multi-tugas

Pada situasi semacam ini, ilmuwan dan tenaga medis harus bekerja dalam tiga lapis. Lapis pertama, pada level teknis mereka harus terlibat aktif dalam segala upaya tanggap darurat, mengantisipasi persebaran dan mengurangi korban berjatuhan. Pada lapis kedua, mereka dituntut untuk segera melakukan penelitian dan eksperimen demi penemuan “obat” dan/atau vaksin yang dapat menghentikan pandemi ini.

Lapis ketiga adalah yang paling sulit dan bisa jadi bisa membuat sakit hati. Para ilmuwan dan tenaga medis tidak bisa diam begitu saja terhadap pelbagai macam spekulasi konspiratif tanpa dasar yang beredar dalam masyarakat melalui media sosial. Secara etis, mereka harus berperan aktif dalam mengomunikasikan temuan-temuan ilmiah dalam bahasa yang sesederhana mungkin namun tidak mereduksi substansi. Hal itu sangat dibutuhkan untuk meredam kepanikan publik.

Sementara itu, beberapa layanan media sosial mencoba langkah radikal untuk mengantisipasi meluasnya misinformasi dan disinformasi itu. Facebook, misalnya, yang sebelumnya tidak pernah menghapus unggahan dari penggunanya mulai bergeming. Facebook mulai mengarahkan pencarian informasi tentang koronavirus pada sumber-sumber kredibel. Sebuah akun Twitter yang telah lama menyebarkan informasi tidak jelas dihapus setelah akun itu berbicara tentang teori konspirasi tentang koronavirus. Gonçalves melihat keputusan penghapusan itu adalah, bagaimanapun juga, sebuah paradoks bagi usaha penanganan COVID-19 karena justru memperkuat asumsi dasar dari teori konspirasi.

Mutasi alamiah atau buatan-manusia?

Salah satu akar bagi berkembangnya teori konspirasi merespons pandemi COVID-19 ini adalah munculnya dugaan bahwa virus ini merupakan hasil rekayasa laboratorium. Dalam penelusuran artikel di situs Nature.com, saya tidak menemukan artikel yang membahas tentang dugaan hal ini. Akan tetapi, satu artikel yang ditulis oleh sekelompok peneliti dari beberapa negara (dibawah koordinasi Kristian G. Andersen dari Scripps Research Institute, La Iolla, California) patut disimak.[4]

Melalui artikel itu, Andersen dkk. hendak menolak asumsi bahwa SARS-CoV-2 adalah hasil rekayasa laboratorium ataupun sebuah virus yang dimanipulasi secara sengaja oleh manusia.[5] Mereka mengklaim: “It is improbable that SARS-CoV-2 emerged through laboratory manipulation of a related SARS-CoV-like coronavirus.” Meskipun begitu, mereka melanjutkan: “We must therefore examine the possibility of an inadvertent laboratory release of SARS-CoV-2.”

Dua pernyataan itu sangat kontradiktif, namun sangat logis. Pernyataan pertama merujuk pada sebuah pemahaman bahwa tidak mungkin SARS-CoV-2 adalah hasil manipulasi manusia di laboratorium. Sementara itu, pernyataan kedua membuka peluang bagi sebuah asumsi bahwa bisa jadi virus tersebut adalah hasil kerja laboratorium secara tidak sengaja. Hal itu sangat mungkin terjadi mengingat banyak penelitian tentang koronavirus sedang dilakukan di pelbagai laboratorium di seluruh dunia.

Berpegang pada itu, Andersen dkk. menawarkan dua skenario. Pertama, seleksi alam dalam inang hewan sebelum terjadi perpindahan zoonosis. Seperti diketahui, permulaan COVID-19 dikaitkan dengan kasus yang menyebar dari pasar ikan Huanan di Wuhan, China. Di pasar itu, kita dapat menjumpai pelbagai hewan yang potensial menjadi inang perantara virus ini. Pada skenario ini, virus sudah bermutasi menjadi SARS-CoV-2 terlebih dahulu pada hewan. Setelah itu, virus masuk pada tubuh manusia, dan dapat menyebar melalui perantaraan manusia.

Skenario kedua adalah seleksi alamiah virus di dalam tubuh manusia setelah perpindahan zoonosis. Pada skenario ini, SARS-CoV-2 adalah hasil mutasi dari nenek-moyang virus itu yang masuk pada tubuh manusia. Nenek-moyang virus itu kemudian beradaptasi dan menguasai fitur-fitur genomik yang khas pada tubuh manusia. Hasil dari mutasi itu adalah SARS-CoV-2 yang memicu COVID-19 dan menular ke manusia lain.

Hingga saat ini, para peneliti di segala penjuru dunia masih bekerja keras untuk memahami SARS-CoV-2. Kita masih belum bisa memastikan bagaimana SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 ini muncul pertama kalinya. Untuk memastikan usul-asal SARS-CoV-2 ini masih butuh waktu. Apalagi, menemukan vaksinnya. Informasi dan penelitian lebih lanjut masih terus dilakukan baik terhadap sampel yang ditemukan pada pasien lain ataupun dengan metode yang berbeda.

[bersambung]


Sumber acuan:

[1] Joana Gonçalves-Så, “In the fight against the new coronavirus outbreak, we must also struggle with human bias,” Nature Medicine 26 (9 Maret 2020): 305.

[2] Gonçalves-Så, “In the fight against the new coronavirus outbreak, we must also struggle with human bias.”

[3] Daniel Jolley dan Pia Lamberty, “Coronavirus is a breeding ground for conspiracy theories – here’s why that’s a serious problem,” The Conversation, 28 Februari 2020, https://theconversation.com/coronavirus-is-a-breeding-ground-for-conspiracy-theories-heres-why-thats-a-serious-problem-132489.

[4] Kristian G. Andersen et al., “The proximal origin of SARS-CoV-2,” Nature Medicine, 2020.

[5] Andersen et al.


%d bloggers like this: