Tuntutan kolaborasi dan keterbukaan
April 2, 2020
Menjaga Kewarasan di Tengah COVID-19
April 16, 2020
Seri Diskusi Daring Perkumpulan Eutenika

Waktu & tempat

Selasa, 7 April 2020, 15.30-17.30 WIB via Zoom.

Transkrip diskusi bisa diunduh di sini.


Komunikasi Bencana COVID-19

Keputusan WHO mendeklarasikan pandemi global COVID-19 bukanlah tanpa dasar. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, persebaran virus baru SARS-CoV-2 telah menjangkau banyak negara dengan kejadian luar biasa (KLB) terjadi di China, Iran, Italia dan Korea Selatan.[1] Saat WHO mengumumkan pandemi global COVID-19 pada 11 Maret 2020, terdapat 121.564 kasus di lebih dari 110 negara, dengan kasus kematian mencapai 4.373. Angka itu, sayangnya, masih akan terus menanjak dan kita hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dua hari setelah pengumuman WHO tersebut, Pemerintah Republik Indonesia membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 yang dipimpin oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui penerbitan Keppres 7/2020). Pemerintah juga mengumumkan kondisi darurat COVID-19 yang berlaku secara nasional sampai 29 Mei 2020.

SARS-CoV-2, atau lebih dikenal sebagai “virus korona” (coronavirus), adalah satu dari sekian virus dari genus yang sama yang menyebabkan gangguan kesehatan,[2] namun dia adalah yang pertama menggemparkan masyarakat manusia. Setiap hari muncul kasus baru di tempat baru dan sampai hari ini belum ada penemuan vaksin untuk mengatasi COVID-19.

Pandemi biasanya dipahami untuk menyebut persebaran penyakit secara cepat ke seluruh wilayah dan tak bisa dikendalikan. SARS tahun 2002-2003 tidak berujung pada pandemi global, meskipun telah membunuh 774 jiwa dari 8.098 orang yang positif terinfeksi di belasan negara. Kasus Ebola 2014-2016 juga sama. Korban jiwa mencapai 11.310 dari 28.616 orang yang terinfeksi di tiga negara di Afrika barat. Kedua penyakit yang disebabkan oleh virus itu tidak sampai dinyatakan sebagai sebuah pandemi.

Pada tahun 2009-2010, WHO sempat mengumumkan pandemi wabah H1N1. Situasi itu memicu penelitian dan pengembangan vaksin baru. Begitu vaksin ditemukan situasi kembali “normal”.

Selama puluhan tahun, ilmuwan, dokter, jurnalis dan ahli komunikasi bekerja keras untuk mewujudkan demokratisasi pengetahuan, partisipasi warga, dan masyarakat yang lebih kritis. Jejaring (berbasis-media) sosial diharapkan dapat memfasilitasi dan bahkan memperluas proses itu. Akan tetapi, Joana Gonçalves, seorang peneliti berbasis di Portugal, melihat buah dari usaha tersebut adalah “sebuah masyarakat yang terlalu kritis dengan banjir informasi tapi, sayangnya, tidak berpengetahuan luas.”[3]

Penggunaan media sosial sebagai medium komunikasi dan diskusi waktu-sebenarnya memicu ketertarikan publik untuk mengikuti analisis data dan komentar-komentar para ahli tentang hal baru ini. Pengaturan-diri menjadi penting untuk memelihara rasa saling percaya. Gonçalves melihat persoalan serius dalam memahami wabah di era media sosial adalah adanya “bias kognitif yang dimanfaatkan oleh mesin algoritma.”

Kita telah memasuki sebuah situasi “normal baru”. Kondisi ini terkait erat pada urbanisasi, pertumbuhan penduduk, mobilitas global, alih fungsi lahan, perubahan iklim dan krisis politik. Dalam normalitas baru ini, ada kebutuhan untuk memperbaiki cara dan sikap menghadapi wabah. Keterbukaan atas informasi adalah hal kunci, selain memperkuat kapasitas anggota masyarakat di level lokal. Kekhawatiran terbesar adalah kasus ini terjadi di sebuah area dengan infrastruktur kesehatan masyarakat lemah.

Ketidaktahuan dan ketidakmautahuan tentang apa yang terjadi biasanya akan berujung ketidaksiapan manusia sehingga memicu situasi panik yang cenderung memicu laku yang berorientasi pada diri sendiri (non-sosial) dan tanpa perhitungan matang (non-rasional).[4]

Koronavirus bukanlah makhluk baru di bumi ini. Dia diasosiasikan dengan sejumlah penyakit menular pada manusia, termasuk SARS pada 2002-2003 dan MERS pada 2012, dan pada hewan SADS 2016-2017. Meskipun koronavirus teridentifikasi pada mamalia, khususnya kelelawar ladam kuda, namun bagaimana awal mula ada koronavirus yang menular melalui manusia (seperti SARS-CoV-2) masih misterius.

Untuk bisa bertahan dalam situasi normal baru pasca COVID-19, kita perlu membangun pemahaman dasar tentang penyebab dari ini semua. Beberapa pertanyaan muncul:

  • Apa itu virus? Apa itu virus “SARS-CoV-2”?
  • Apa yang membedakannya dengan virus korona jenis lain?
  • Bagaimana dia berbeda dengan virus korona yang ditemukan sebelumnya?
  • Bagaimana organisme yang tak dapat dilihat oleh mata telanjang dapat memunculkan bencana bagi masyarakat?
  • Bagaimana kita mengomunikasikan virus tersebut, bencana yang disebabkan olehnya, dan cara meresponsnya pada publik luas, khususnya masyarakat awam?

Tak bisa dipungkiri, peran media sosial menjadi semakin vital ketika himbauan dan ajakan untuk berdiam di dan bekerja dari rumah justru meningkatkan penggunaan media sosial untuk bekerja dan, tentu saja, untuk mengikuti perkembangan aktual terkait pandemi COVID-19.

  • Di era media sosial, bagaimana kita perlu bersikap terhadap pelbagai informasi yang beredar di sana?
  • Bagaimana media sosial dapat digunakan sebagai sarana untuk merajut solidaritas anggota masyarakat agar dapat bertahan melalui pandemi COVID-19 ini?

Narasumber

  • Ahmad Rusdan Handoyo Utomo (peneliti biologi molekuler; Young Scientists Forum)
  • Dian Tamitiadini (dosen Komunikasi Bencana, FISIP, Universitas Brawijaya)
  • Bambang Catur Nusantara (dewan nasional WALHI)

Moderator

Anton Novenanto (dosen Masyarakat dan Budaya Bencana, FISIP, Universitas Brawijaya; Direktur Eksekutif Perkumpulan Peneliti Eutenika)

Transkrip diskusi bisa diunduh di sini.

Rekaman diskusi


Pustaka acuan:

[1] Nature, “The pandemic question,” Nature 579 (5 Maret 2020): 7.

[2] Jie Cui, Fang Li, dan Zheng-Li Shin, “Origin and evolution of pathogenic coronaviruses,” Nature Reviews Microbiology 17 (Maret 2019): 181–92.

[3] Joana Gonçalves-Så, “In the fight against the new coronavirus outbreak, we must also struggle with human bias,” Nature Medicine 26 (9 Maret 2020): 305.

[4] Enrico L. Quarantelli, “The nature and conditions of panic,” The American Journal of Sociology 60, no. 3 (November 1954): 267–75.

%d bloggers like this: