Mengubah cara pandang
March 27, 2020
Tuntutan kolaborasi dan keterbukaan
April 2, 2020

Melacak koronavirus – 4

Menyambut pandemi baru

Saat WHO mengumumkan pandemik global COVID-19 pada 11 Maret 2020, terdapat 121.564 kasus di lebih 110 negara, dengan kasus kematian mencapai 4.373. Angka itu, sayangnya, masih akan terus menanjak dan kita hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Oleh: Anton Novenanto

[sebelumnya]

Pandemi

Pandemi biasanya dipahami untuk menyebut persebaran penyakit yang tak bisa dikendalikan secara cepat ke pelbagai wilayah. SARS tahun 2002-2003 tidak berujung pada pandemik meskipun telah membunuh 774 jiwa dari 8.098 orang yang positif terinfeksi di 25 negara. Kasus Ebola 2014-2016 juga sama. Korban meninggal mencapai 11.310 jiwa, dari 28.616 orang yang terinfeksi di tiga negara di Afrika barat. Kedua epidemi itu tidak sampai dinyatakan sebagai sebuah pandemik.

Pada tahun 2009-2010, WHO sempat mengumumkan wabah virus H1N1 (flu babi) sebagai sebuah pandemik. Situasi itu memicu penelitian dan pengembangan vaksin baru. Begitu vaksin ditemukan situasi kembali “normal”.

Keputusan WHO untuk mendeklarasikan pandemi global COVID-19 bukan tanpa dasar. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, persebaran virus itu telah menjangkau banyak negara dengan kejadian luar biasa (KLB) terjadi di China, Iran, Italia dan Korea Selatan.[1] Setiap hari muncul kasus baru di tempat baru dan sampai hari ini belum ada penemuan vaksin untuk mengatasi COVID-19.

Pasar ikan

Tahun 2019 ditutup dengan sebuah berita tentang menyebarnya sebuah penyakit seperti pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya. Temuan pertama atas kasus itu dilaporkan pada 8 Desember. Penyakit ini ditemukan pada orang-orang yang berada dalam kluster di sekitar Pasar Ikan kota Wuhan, provinsi Hubei, China. Identifikasi kluster itu baru disadari pada 31 Desember oleh kantor WHO di China.[2] Pada 1 Januari 2020, pasar itu ditutup total.

Pada 7 Januari, otoritas China mengumumkan penemuan jenis baru virus korona dari hasil uji laboratorium terhadap para korban. Setiap harinya, kasus baru ditemukan, termasuk pada tenaga medis yang melayani korban. Fakta semacam ini mengindikasikan bahwa virus menular dari manusia-ke-manusia. Berbeda dengan virus-virus sebelumnya yang melalui perantaraan binatang.

Mengetahui hal itu, pemerintah China memberikan peringatan pada jutaan penduduknya untuk tidak melakukan perjalanan keluar dari wilayahnya. Padahal, saat itu menjelang libur Tahun Baru China. Pemerintah China belajar betul dari kasus SARS 2002-2003.

Dalam waktu 10 hari, forum-forum diskusi daring di kalangan peneliti membahas penemuan virus baru ini. Virological.org[3], misalnya, menyebutnya sebagai “2019-nCoV”. Virus ini adalah sejenis Betacoronavirus yang mirip dengan penyebab SARS dan virus lainnya. Meskipun begitu, belum jelas sumbernya dari mana karena beragam binatang dijual di pasar itu.[4] Keterbukaan data semacam ini adalah hal baru yang harus disyukuri. Namun, kerahasiaan data juga tetap dijaga agar tidak menimbulkan isu yang menjatuhkan kepercayaan publik.

WHCV dan inang manusia

Sebuah studi terhadap seorang korban COVID-19 menarik untuk disimak.[5] Seorang pasien berusia 41 tahun tanpa riwayat hepatitis, TBC ataupun diabetes. Dia diterima dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Wuhan pada 26 Desember 2019, setelah mengeluh sakit selama 6 hari. Sang pasien melaporkan demam tinggi (38.4ºC), dada sesak, batuk parah, sakit, dan lemas selama seminggu.[6]

Penyelidikan etiologi awal tidak menemukan keberadaan virus influenza (Chlamydia pneumoniae dan Mycoplasma pneumoniae). Penyebab patogen pernafasan lainnya, seperti adenovirus, juga negatif. Setelah melalui sebuah kombinasi perawatan antibiotik, anti-virus, dan glukokortikoid, kondisi pasien tidak juga membaik. Pada hari keenam pasien dipindah ke rumah sakit lain untuk perawatan intensif.

Penyelidikan epidemiologi Wuhan Center for Disease Control and Prevention mengungkap bahwa si pasien bekerja di sebuah pasar ikan tertutup. Pasar itu tidak hanya menjual ikan dan kerang, tapi juga binatang liar hidup lainnya termasuk landak, luak, ular, dan burung. Namun tidak ada kelelawar dijual di sana.

Berangkat dari temuan-temuan tersebut, para peneliti mengumpulkan cairan dari saluran pernafasan (BALF) dan menjalankan analisis meta-transkriptomik. Mereka menemukan sejenis virus yang mirip dengan SARS-coronavirus (CoV) yang ditemukan di kelelawar. Virus ini kemudian mereka sebut “WH-Human1coronavirus” (WHCV).[7]

WHCV memiliki kemiripan dengan dua virus lain dari genus Betacoronavirus: sebuah virus dalam manusia (SARS-CoV Tor2) dan sebuah virus dalam kelelawar (bat SL-CoVZC45). Para peneliti juga mencari keterhubungan evolutif antara WHCV dan kedua virus itu. Hasilnya, WHCV berada dalam kluster subgenus Sarbecovirus – termasuk di dalamnya adalah SARS-CoV, virus penyebab SARS tahun 2002-2003 lalu.[8]

Para peneliti juga berusaha memahami potensi WHCV pada manusia, jika dibandingkan dengan dua virus yang sama. Mereka menemukan bahwa WHCV, berbeda dengan dua virus sebelumnya, menggunakan manusia sebagai inangnya. Temuan ini berarti kemungkinan persebaran WHCV adalah manusia-ke-manusia (tanpa melalui inang perantara dari spesies lain).[9] Koronavirus diasosiasikan dengan sejumlah penyakit menular pada manusia, termasuk SARS pada 2002-2003 dan MERS pada 2012. Meskipun koronavirus teridentifikasi pada mamalia, termasuk kelelawar, namun bagaimana awal mula ada koronavirus yang menular melalui manusia masih misterius.

[bersambung]


Sumber acuan:

[1] Nature, “The Pandemic Question,” Nature 579 (March 5, 2020): 7.

[2] Nature, “Rapid Outbreak Response Requires Trust,” Nature Microbiology 5 (February 2020): 227–28.

[3] Virological.org adalah sebuah media daring yang memfasilitasi sebuah konsorsium peneliti yang dipimpin oleh Prof. Yong-Zhen Zhang (Fudan University, Sanghai) dan bekerjasama dengan peneliti dan tenaga medis dari Sanghai Public Health Clinical Center and School of Public Health, Rumah Sakit Wuhan, Huazhong University of Science and Technology, Wuhan Center for Disease Control and Prevention, National Institute for Communcable Disease Control and Prevention, Chinese Center for Disease Control, dan University of Sydney, Australia.

[4] Nature, “Rapid Outbreak Response Requires Trust.”

[5] Fan Wu et al., “A New Coronavirus Associated with Human Respiratory Disease in China,” Nature 579 (March 12, 2020): 265–69.

[6] Wu et al., 266.

[7] Wu et al., 266. Belakangan nama itu berubah menjadi “2019-nCoV”. Namun, Komite Internasional Taksonomi Virus memberi nama virus baru ini sebagai SARS-CoV-2. Pada 11 Februari 2020, WHO merilis nama resmi dari penyakit yang disebabkannya, COVID-19.

[8] Wu et al., 267.

[9] Wu et al., 268.


%d bloggers like this: