Beberapa upaya kolaboratif
March 25, 2020
Menyambut pandemi baru
March 29, 2020

Melacak koronavirus – 3

Mengubah cara pandang

Perubahan ekologi, urbanisasi, mobilitas global, dan perubahan iklim tidak otomatis diikuti dengan perbaikan sistem kesehatan masyarakat. Kerja kolaboratif adalah sebuah keniscayaan. Untuk itu, hal mendesak pertama adalah mengubah cara pandang.

Oleh: Anton Novenanto

[sebelumnya]

Epidemiologi

Epidemiologi adalah sebuah cabang dari ilmu kedokteran yang memelajari kejadian, distribusi dan pengendalian penyakit dan faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kesehatan. Tulisan-tulisan tentang kegiatan tersebut sudah ditemukan sejak abad ke-16. Perubahan pemahaman tentang penyakit menular terjadi semakin cepat sejak akhir abad ke-19.[1] Salah satu kejadian pemicu perubahan itu adalah epidemi kolera di London, 1854.

Di abad ke-21, teori dan praktik epidemiologi harus mampu berjalan beriringan dengan cepatnya perubahan epidemi yang terjadi secara alamiah. Para ahli epidemiologi tidak hanya bertugas memahami epidemi yang sedang dan akan terjadi, namun juga dituntut untuk menemukan cara untuk mengatasinya.

Realitas dalam dunia kesehatan menjadi semakin kompleks dengan adanya pemahaman-pemahaman baru yang memasukkan variabel demografi dan sosial-ekonomi. Tingginya laju mobilitas manusia yang semakin terhubung secara global dan pesatnya laju urbanisasi yang memicu pertumbuhan permukiman padat huni berkontribusi besar bagi persebaran dan perkembangbiakan virus. Ditambah lagi dengan adanya fakta peningkatan kasus-kasus “penyakit tidak menular” (non-communicable diseases) yang dipicu oleh gaya hidup, kondisi lingkungan dan tekanan mental.

“Normal baru”

Epidemi tidak hanya menyerang raga biologis manusia saja. Dampaknya juga sampai pada kehidupan sosio-ekonomi jangka panjang, khususnya di negara-negara berkembang dengan sistem kesehatan dan sistem jaminan kesehatan yang rapuh.[2] Kondisi semacam ini menuntut perubahan cara masyarakat dunia dalam merespons epidemi dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pelbagai ancaman yang akan datang.

Penguatan kapasitas bagi para pemimpin politik agar siap menghadapi kondisi yang terburuk mutlak diperlukan. Pendekatan ini perlu secara integratif memusatkan perhatian pada komunitas-komunitas lokal yang memiliki risiko tinggi dan potensial terkena dampaknya. Sekalipun WHO sudah mendapatkan mandat untuk melakukan tindakan preventif, responsif, dan strategi pemulihan, pendekatan “dari bawah” sangat dibutuhkan untuk membangun sistem yang integratif.[3]

Kita berhadapan dengan kondisi yang disebut dengan “normal baru” (the new normal). Perubahan riil itu terjadi dari bawah. Alih fungsi lahan akibat sistem pertanian dan kehutanan mengubah relasi antara manusia, hewan dan lingkungan. Perubahan demografis ditandai dengan kehidupan yang menjadi semakin urban telah mendorong aglomerasi manusia (dan juga hewan). Mobilitas manusia dengan dalih migrasi, perdagangan, dan wisata meningkatkan peluang terjadinya kontak dan penyebaran penyakit secara global. Perubahan iklim sedikit banyak berkontribusi pada perubahan dan migrasi yang terjadi secara alamiah.

Dalam dunia semacam ini, persiapan menghadapi epidemi membutuhkan integrasi sistem kesehatan, ekonomi dan politik secara global.[4] Sekelompok peneliti dari pelbagai negara mengusulkan beberapa area yang penting untuk diperhatikan demi mencapai tujuan tersebut, antara lain: i) tata kelola dan infrastruktur, ii) pelibatan dan komunikasi, iii) ilmu-ilmu sosial, iv) pengembangan teknologi, dan v) penelitian dan pengembangan.

Tata kelola dan infrastruktur

Fokus perhatian dari area ini adalah melakukan integrasi kerja kelembagaan di pelbagai level (lokal, nasional, dan internasional), mendorong akuntabilitas dan transparansi dari masing-masing pemangku kepentingan, perbaikan sistem berbagi data, perbaikan manajemen logistik dan krisis. Epidemi menguji banyak aspek dalam tata kelola masyarakat, namun yang terutama adalah ujian terhadap sistem kesehatan dan kepercayaan terhadap pemerintah.

Perbaikan perlu dilakukan melalui usaha membangun sumber daya dan kapasitas yang koordinatif antar lembaga-lembaga kesehatan masyarakat di level lokal, nasional dan internasional. Keterbukaan mutlak diperlukan untuk merajut kepercayaan antar-lembaga. Hal ini bisa dimulai dengan inisiatif sederhana untuk saling berbagi data dari masing-masing lembaga. Mekanisme ini perlu diatur sedemikian rupa agar, pada satu sisi, memungkinkan lembaga mempertahankan kerahasiaan data pribadi, dan, pada sisi lain, membuka peluang bagi kolaborasi internasional memikirkan cara terbaik untuk mengatasi persoalan.[5]

Intervensi kolaboratif global tidak hanya terbatas pada saat kejadian luar biasa (KLB), tapi juga terintegrasi dalam mekanisme rutin. Desentralisasi pusat-pusat pengendalian penyakit dengan meningkatkan kapasitas laboratorium dan layanan kesehatan di negara-negara di segala penjuru dunia adalah kebutuhan mendesak. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah membuat pusat-pusat tersebut bekerja kolaboratif, bahu-membahu. Perlu dipikirkan suatu mekanisme berbagi data antar-lembaga yang tidak menguntungkan satu pihak saja, tapi untuk kepentingan bersama.

Pelibatan dan komunikasi

Fokus perhatian area ini adalah mendorong segala inisiatif yang berasal dari komunitas sebagai strategi pelibatan komunitas untuk melakukan diplomasi kesehatan. Pelibatan komunitas perlu dilakukan jauh sebelum terjadi KLB, dalam mekanisme layanan kesehatan rutin. Ini dapat dilakukan dengan memberikan layanan kesehatan yang berpusat pada pasien, keluarga dan komunitasnya. Tidak ada kesehatan masyarakat tanpa dukungan dari masyarakatnya.[6]

Anggota masyarakat berpeluang menjadi agen deteksi kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Oleh karena itu, pelatihan dan mobilisasi relawan untuk mendeteksi, menyeleksi dan melaporkan pelbagai kejanggalan yang mereka jumpai adalah sebuah cara yang efektif untuk mendeteksi suatu kejadian.

Jalur informasi kesehatan perlu memanfaatkan jejaring sosial untuk melacak rantai persebaran, baik itu individu-individu ataupun lokasi-lokasi yang rawan. Tantangan besarnya adalah bagaimana menjaga agar pendekatan ini berkembang secara inklusif sehingga dapat merangkul seluruh anggota masyarakat, bahkan yang paling marjinal sekalipun.

Ilmu sosial

Peran ilmu sosial, seperti antropologi, ilmu politik, geografi, linguistik, dalam kejadian epidemi semakin kentara belakangan. Ilmu sosial dapat membantu epidemiologi untuk memahami dan membongkar konteks (lokal) yang dapat menjadi hambatan utama pada cara masing-masing anggota masyarakat merespons epidemi. Meskipun begitu, masih banyak hal yang harus dipelajari tentang bagaimana data-data dari ilmu sosial dapat bermanfaat untuk menanggapi suatu epidemi yang sedang terjadi.[7]

Dalam suatu kejadian epidemi ada dua lapis pengetahuan yang berjalan beriringan: pertama, pengetahuan tentang epidemi yang sedang berlangsung; dan, kedua, pengetahuan tentang ragam persepsi tentang epidemi yang sedang berlangsung. Pengetahuan lapis kedua itu tidak hanya beragam, tapi terkadang saling bertentangan satu-sama-lain. Kondisi ini menyebabkan penerimaan tentang epidemi yang sedang berlangsung terjadi secara kontekstual.

Tantangan terbesar dari ilmu sosial adalah memahami konteks budaya, politik, spasial, dan juga bahasa yang digunakan oleh tiap-tiap komunitas agar pemahaman bersama tentang suatu epidemi tidak distortif. Ilmuwan sosial dapat membantu mengurangi miskomunikasi dan ketidakpercayaan yang biasa terjadi pada suatu KLB. Dengan demikian, energi masyarakat tidak habis untuk mengantisipasi miskomunikasi dan ketidakpercayaan sehingga dapat dikonsentrasikan untuk melakukan penanggulangan KLB.

Pengembangan teknologi

Teknologi dapat membantu kita untuk menyusun dan menggunakan sebuah sistem pemantauan berdasarkan waktu-sebenarnya (real-time) dengan tingkat presisi yang dapat dipertanggungjawabkan. Meningkatnya aktivitas yang menggunakan telepon pintar, Internet nir-kabel, dan media sosial membuka peluang bagi penggunaan perangkat itu untuk mengumpulkan data terkait epidemi. Beberapa pengembangan teknologi masa depan, seperti kecerdasan buatan membantu kita untuk mewujudkan kesehatan masyarakat yang lebih presisi.[8]

Langkah berbasis-teknologi perlu terintegrasi dengan aktivitas berbasis-masyarakat dan sistem kesiapsiagaan dan mitigasi epidemi yang sudah ada. Dengan demikian, warga dapat menyampaikan informasi pada sistem kesehatan masyarakat dan mendapatkan umpan balik dari tenaga kesehatan dengan cepat. Meskipun begitu, perangkat akses terbuka perlu menjamin kerahasiaan data pribadi.

Tantangan terbesar adalah dari pengembangan teknologi adalah, lagi-lagi, ketimpangan global antara negara maju dengan negara berkembang. Perlu ada kemauan politik yang cukup, tidak hanya di negara-negara berkembang tapi justru di negara-negara maju untuk melakukan investasi pengembangan teknologi penanggulangan epidemi. Kemauan ini dapat mendongkrak fasilitas laboratorium sederhana menjadi setara dengan laboratorium kelas satu tidak hanya dalam hal peralatan tapi juga sumber daya manusia yang mengoperasikannya.

Penelitian dan pengembangan

Ada tiga fokus utama dalam area ini: diagnosis, terapi, dan vaksin. Dalam menghadapi KLB yang disebabkan oleh virus, vaksinasi adalah intervensi kesehatan masyarakat paling efektif. Akan tetapi, penelitian dan pengembangan vaksin butuh kesabaran apalagi bila penyebab KLB adalah virus jenis baru.

Tantangan terbesar adalah mengembangkan vaksin yang aman dan tidak menimbulkan efek samping. Dalam kasus virus Zika, vaksin yang ada berisiko menyebabkan cacat kelahiran di bagian otak pada bayi apabila dia diberikan pada ibu hamil.[9] Namun, untuk bisa menemukan vaksin yang aman untuk kelompok ini dibutuhkan sampel uji coba dari kelompok ini dan itu sangat langka. Oleh karenanya, penelitian vaksin tidak terlalu menarik bagi investor karena penelitian semacam itu tidak dapat memberi kepastian akan adanya keuntungan (ekonomis) dengan cepat.

Dalam era pasca-manusia, analisis risiko terhadap vaksin tidak hanya terbatas pada manusia saja tapi juga pada entitas kehidupan lainnya. Perubahan-perubahan pada lingkungan, baik itu yang alamiah dan antropogenik, saling memengaruhi setiap elemen yang ada. Keamanan yang dimaksud termasuk jaminan bahwa penggunaan suatu vaksin tidak memicu (atau mempercepat) mutasi virus tersebut yang berujung pada kemunculan penyakit baru.

[bersambung]


Sumber acuan:

[1] Juliet Bedford et al., “A New Twenty-First Century Science for Effective Epidemic Response,” Nature 576 (November 7, 2019): 130.

[2] Bedford et al., 130.

[3] Bedford et al., 131.

[4] Bedford et al., 132.

[5] Bedford et al., 132.

[6] Bedford et al., 132.

[7] Bedford et al., 133.

[8] Bedford et al., 133.

[9] Bedford et al., 133–34.


%d bloggers like this: