Ini bukan yang pertama
March 24, 2020
Mengubah cara pandang
March 27, 2020

Melacak koronavirus – 2

Beberapa upaya kolaboratif

Memasuki abad ke-21, tantangan umat manusia semakin bertambah. Ancaman tidak hanya menyerang dari luar tubuh manusia. Yang tersulit justru yang menyerang dari dalam tubuh. Peringatan akan terjadinya epidemi bukan tidak pernah disampaikan.

Oleh: Anton Novenanto

[sebelumnya]

Ancaman abad ke-21

Abad ke-21 ditandai dengan beberapa kejadian luar biasa (KLB) yang disebabkan oleh virus. SARS dan MERS merupakan dua kejadian yang disebabkan oleh koronavirus. Beberapa KLB yang disebabkan virus lain, antara lain flu burung, flu babi, Ebola, dan Zika. Sekelompok peneliti dari beberapa negara menyebutkan bahwa kompleksitas KLB yang disebabkan oleh virus terus meningkat.[1]

Beberapa faktor yang turut mendukung termasuk pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan frekuensi dan jangkauan perjalanan manusia, alih fungsi lahan secara besar-besaran, perubahan pola makan, perang dan krisis kemanusiaan, dan perubahan iklim. Kondisi semacam itu turut memengaruhi intensitas interaksi virus, inang, dan ekologi melalui campur tangan manusia.

Kita jadi butuh waktu lebih untuk mengetahui: virus jenis apa yang akan menyebabkan epidemi baru bagi umat manusia?

Namun, daftar pertanyaan tidak berhenti di situ.[2] Bagaimana proses transmisi virus tersebut? Di mana persisnya epidemi bermula? Faktor apa saja yang menggiring pada suatu epidemi? Apa saja gejala awal dari epidemi itu? Kapan persisnya kejadian itu bermula? Apakah kejadian itu terhubung dengan kejadian-kejadian di tempat lain? Bagaimana cara virus itu berevolusi?

Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab dengan segera oleh para ahli yang juga harus berhadapan dengan fakta KLB yang menyebar tak kalah cepatnya.

Mendeteksi KLB

Dalam banyak kasus, KLB deteksi pertama bermula dari para dokter mencermati pola-pola tak biasa.[3] Mereka mempunyai tugas penting dan sulit untuk mencari tahu penyebab penyakit itu. Keberadaan perangkat molekuler sangat dibutuhkan untuk mendeteksi apakah memang viruslah yang menyebabkan gejala tersebut.

Begitu KLB terdeteksi dan virus penyebabnya teridentifikasi beberapa pertanyaan dasar tentang virus itu harus terjawab. Apakah virus itu baru ataukah pernah diketahui sebelumnya dia menyerang manusia? Apakah kita pernah punya diagnosis, vaksin, dan terapi untuk melawannya?

Analisis sekuens terhadap spesies virus baru dapat memberi informasi tentang inang yang potensial—untuk mereproduksinya dan/atau menghasilkan anti-bodi terhadapnya.

Skenario mengatasi KLB

Selain Ebola, SARS dan Zika, WHO telah memiliki daftar pantauan virus-virus yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada masyarakat.[4] Usaha ini merupakan sebuah strategi untuk mengantisipasi, sekaligus pengakuan tentang bakal terjadinya sebuah epidemi serius. Sebuah skenario pun dirancang.

Pada banyak kasus, pasien pertama yang teridentifikasi bukanlah kasus pertama dari kejadian itu. Hal ini menekankan pada kemungkinan adanya kasus-kasus serupa yang tidak terlaporkan ataupun tidak terdeteksi oleh tenaga medis.

Kasus bisa terjadi di mana saja, namun begitu masuk ke sebuah kota keberhasilan transmisi virus berhubungan erat dengan status ekonomi dan tingkat kepadatan penduduk.[5] Hal ini, memunculkan kekhawatiran besar apabila KLB bermula dan terjadi di negara padat penduduk dan ekonomi rendah.

Untuk mendapatkan sebuah gambaran tentang sebuah KLB, sangat penting untuk memahami keberagaman cara virus menyebar.[6] Pada masa awal KLB, salah satu perhatian penting adalah memahami derajat kemungkinan virus tersebut menyebar ke manusia. Persebaran virus dapat dilacak dengan adanya kepastian pengetahuan atas jejaring ‘siapa-menulari-siapa’.

Mengetahui rantai persebaran telah menjadi bagian dari mekanisme standar dari kesehatan masyarakat. Pengetahuan tentang rantai persebaran itu dapat digunakan untuk memutus penyebaran virus dan mengurangi pembesaran epidemi.[7]

Merekonstruksi usul-asal sebuah KLB adalah tugas utama dari filogeografi. Filogeografi adalah sebuah studi tentang proses historis yang mungkin dapat mengetahui persebaran spasial manusia—seperti yang dilakukan dalam KLB Ebola di Afrika Barat.

Meskipun begitu, pendekatan ini hanya dapat menggambarkan sebagian dari proses persebaran yang sebenarnya terjadi. Untuk itu, metode ini perlu juga mempertimbangkan jarak geografis dan jumlah penduduk di sebuah lokasi KLB.[8] Data lain, seperti kemampuan dan sejarah mobilitas inang (manusia atau hewan) juga penting untuk dipertimbangkan.

Tantangan ke depan: kolaborasi

Kebutuhan terbesar untuk mengantisipasi KLB virus terjadi adalah aksesibilitas terhadap sampel dan data terkini.[9] Ini hanya bisa terwujud melalui proses kolaborasi yang produktif dan melibatkan komunitas lokal, lembaga-lembaga kesehatan, klinik lokal, dan peneliti. Meskipun begitu, etika dan tata laku atas data tersebut harus terus dijunjung tinggi.

Pangkalan data skala-besar sangat penting bagi pencarian spesifik atas sejarah spasial-temporal dan persebaran dari sebuah KLB. WHO telah mendukung usaha ini. Insiatif seperti GitHub, Synapse dan Data Dryad adalah beberapa yang telah merintis pusat data. Beberapa insan yang peduli tergabung dalam beberapa komunitas daring, seperti Virological, FluTrackers, ProMED, Nextstrain, HealthMap, dan Microreact, melakukan diskusi intens dan diseminasi hasil riset terbaru. Upaya kolaboratif ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang dapat melanda umat manusia.

[bersambung]


Sumber acuan:

[1] Nathan D. Grubaugh et al., “Tracking Virus Outbreaks in the Twenty-First Century,” Nature Microbiology 4 (January 2019): 10.

[2] Grubaugh et al., 11.

[3] Grubaugh et al., 11.

[4] Grubaugh et al., 12.

[5] Grubaugh et al., 13.

[6] Grubaugh et al., 11.

[7] Grubaugh et al., 13.

[8] Grubaugh et al., 15.

[9] Grubaugh et al., 16.


%d bloggers like this: