Belajar dari Masa Lalu
September 11, 2021
Mencari Infrastruktur Air “Mangkrak”
September 18, 2021

Waktu & Tempat:


 

MovieTalk

People, Power, Paper


Primus Basikbasik berkisah dalam Hidup di Trans (2013) tentang pembabatan hutan di Merauke tahun 1983 dan bagaimana praktik itu mengacaukan batas kepemilikan marga dan penamaan tempat berdasarkan adat. Koman diganti Semangga Tiga, Nawalipare diganti Muramsari. Primus yang sejak awal mau ikut bertani berhadapan dengan diskriminasi yang membuatnya dan rekan-rekannya mulai mengidentifikasi dan mematok kembali tanah-tanah ulayat.

Pemetaan Wilayah Adat (2021) mengangkat keyakinan masyarakat Lembah Baliem yang percaya kalau tanah itu adalah ‘ibu’ dan tidak boleh dijual. Bersama dengan Dinas Kehutanan Jayawijaya, masyarakat melakukan pemetaan terhadap wilayah komunitas beserta batas-batasnya untuk mempertahankan hutan lindung, melakukan pendataan terhadap populasi, fasilitas, dan kebun, membuat rencana pengelolaan sumber daya alam, serta menyelesaikan konflik antar masyarakat. Hingga saat ini, baru empat wilayah komunitas yang berhasil dipetakan.

Perempuan di Tanahnya (2021) merekam upaya Irene Fatagur untuk memperoleh kembali tanah keluarga yang telah menjadi lahan sawit PTP II. Ia menunjukkan surat-surat pernyataan dari LBH dan keuskupan, serta surat-surat permintaan tindak lanjut ke bupati dan gubernur. Berbekal pengalaman ini, perjuangan Irene tidak hanya berhadapan dengan instansi pemerintah, tetapi juga mencari celah agar haknya atas tanah diakui masyarakat adat yang patriarkis.

Hutan dan kebun adalah sumber kehidupan bagi masyarakat Papua dan komunitas adat lain. Bagaimana pemetaan sebaiknya dilakukan? Elemen apa yang termasuk dalam pemetaan tersebut? Apakah pendataan terhadap jumlah populasi, sekolah, gereja, dan fasilitas lainnya, itu cukup bagi masyarakat adat? Sementara, sumber kehidupan adalah tumbuhan, area sungai, binatang buruan, serangga untuk penyerbukan. Apakah sumber kehidupan ini perlu dan bagaimana dipetakan? Bagaimana mewujudkan peta yang mampu membuktikan kekuasaan komunitas adat, dan bukan sekedar menunjukkan batas wilayah yang mungkin justru bisa dimanfaatkan untuk mengidentifikasi dan menguasai area tersebut?

Diskusi bersama:

  • Abner Mansai (Dewan Daerah, WALHI Papua)
  • Paramita Iswari (Universitas Gadjah Mada)
%d bloggers like this: