Against the Grain
July 6, 2021
[PENDAFTARAN DIBUKA] Sekolah Poskolonial
July 19, 2021

Waktu & Tempat:

  • Hari, tanggal: Kamis, 29 Juli 2021,
  • Waktu: 16.00-18.00 WIB.

Lihat rekamannya di Facebook Fan Page Eutenika.


 

MovieTalk #7

Tiga Mama Tiga Cinta


  • Halaman Papua, Komunitas Yoikatra – Timika dan Forum Lenteng – Jakarta 
  • Tahun produksi: 2015
  • Durasi: 60 menit

Film Tiga Mama Tiga Cinta (2015) berkisah tentang pelayanan kesehatan ibu dan anak, dengan narator bidan puskesmas, kader puskesmas, dan penyuluh HIV/AIDS. Ada dua lokasi  utama yang disorot. Pertama, Puskesmas Kampung Limau Asri, kabupaten Mimika, dengan kegiatan rutin seperti pengukuran, penimbangan, vaksinasi, dan pemberian obat. Lokasi kedua adalah rumah warga, dimana petugas kesehatan melakukan pengambilan sampel darah untuk tes HIV/AIDS, memberi penyuluhan, dan memonitor keadaan pasien. 

Di antara tenaga medis berseragam, ada para perempuan yang punya kemampuan membantu persalinan berbekal keterampilan dan pengetahuan lokal. Otoritas ‘negara’ mengintervensi ‘legalitas’ para perempuan ini dengan meminta mereka menjalani pendidikan kilat sehingga ‘sah’ membantu persalinan, karena telah menyandang titel Kader Puskesmas. Dalam praktek, intervensi ini bisa dibilang sekedar ‘tanda’ bahwa negara itu ada. Tidak semua perempuan menjalani pelatihan, sementara mereka tetap menolong persalinan. Artinya, menjadi kader atau tidak, tidak membatasi kegiatan mereka. Film ini memperlihatkan keterbatasan-keterbatasan Puskesmas seperti jam kerja, tenaga kerja, jarak antara puskesmas dengan perkampungan, dan moda transportasi. Puskesmas menjadi instansi yang berjarak dengan perkampungan, sungai, dan hutan, dimana warga tinggal dan tempat persalinan terjadi. Kehendak negara untuk berwenang lewat puskesmas, berbanding terbalik dengan kemampuannya.

Film ini juga mengangkat budaya patriarki yang dilestarikan oleh negara melalui Puskesmas. Pengunjung dan tenaga medis Puskesmas melulu perempuan. Negara seperti tidak berminat mengawasi kesehatan laki-laki, setidaknya sebanyak tekanannya kepada perempuan, padahal dalam konteks penularan HIV/AIDS, ada kontribusi laki-laki. Ini, antara lain, diperlihatkan melalui wawancara dengan kepala penyuluh khusus HIV/AIDS, yang mengalami kesulitan memberitahukan hasil test positif kepada pasien yang akan melahirkan. Sementara itu, Kepala KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), menggunakan kebiasaan orang gunung potong badan sehabis perang, dengan asumsi terjadi kontak darah, sebagai cara membujuk laki-laki untuk melakukan tes HIV. 

Terakhir, film ini tidak malu-malu menunjukkan stereotip kolonial dalam interaksi antara tenaga medis, perempuan Papua, tim pembuat film, dan, mungkin juga, penonton film. Penunjukkan ini, tampaknya, sengaja dilakukan sebagai tanda bahwa kita belum terbebas dari cara pandang kolonial itu. Ini misalnya terjadi pada pertanyaan wawancara, “apakah mama-mama di sini masih malas ke puskesmas?”. Lalu, ada scene seorang perempuan diapit dua petugas medis ketika mengukur tinggi badan, yang mirip situasi di foto-foto tindakan peneliti Eropa pada masyarakat kulit berwarna di masa kolonial. Scene itu juga tambah tidak enak karena, di tengah keramaian puskesmas, ada petugas medis bertanya setengah berteriak pada perempuan itu, “anaknya berapa?”. Yang ditanya menjawab “tiga”, dan petugas medis itu bertanya lagi, “hidup semua?”.

Diskusi bersama:

  • Justisia A.I. Komigi (RSUD Kabupaten Sorong, Papua Barat)
  • Rosaria Indah (Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh)

 

%d bloggers like this: