[PENDAFTARAN DITUTUP] Kursus Daring Menulis Etnografi
June 5, 2021
Pluriverse: A Post-Development Dictionary
June 27, 2021

Jadwal dan Topik Bahasan

  • Jumat, 26 Maret 2021, 15-17 WIB. Dimensi Sejarah dan Kelembagaan Bencana Industri: Sebuah Observasi Berjarak.
  • Sabtu, 27 Maret 2021, 13-15 WIB. Coping with Indonesia’s Mudflow Disaster.
  • Jumat, 30 April 2021, 15-17 WIB.Tantangan Pemulihan Mental Penyintas Lumpur Lapindo.
  • Jumat, 28 Mei 2021, 19-21 WIB. Decolonizing Lapindo ‘Science’: Knowledge, Power and Legacies of Misinformation.
  • Jumat, 25 Juni 2021, 15-17 WIB. Dekolonisasi Cakap-Bencana: Portret Forensik, Jalan Cerita Tandingan.

SERI DISKUSI DARING

Bencana Industrial dan Keadilan Sosial-Ekologis

Bencana adalah hal yang kompleks; bencana industrial lebih kompleks lagi. Saat ini kita menyaksikan fakta semakin kompleksnya dimensi dan meningkatnya jumlah dan skala bahaya geofisik antropogenik (a.l., pemanasan global, banjir di kawasan urban, tanah longsor, ledakan atau kebocoran reaktor nuklir, kebocoran minyak di lepas pantai, perubahan genetik, penggunaan pestisida yang berlebihan, dan masih banyak kejadian yang lain). Bahaya-bahaya tersebut dipicu oleh aktivitas manusia, khususnya industrialisasi yang semakin masif.

Di era modernisasi industrial, hubungan antar-individu menjadi semakin transaksional sehingga melemahkan kohesi sosial dan menurunkan tingkat kepercayaan antara individu dalam suatu kelompok atau masyarakat. Relasi semacam itu sedikit banyak turut memengaruhi perubahan pola intervensi dan modifikasi manusia terhadap lingkungan, khususnya lingkungan yang tidak sedang ditinggalinya.

Di Indonesia, satu peristiwa kerap dijadikan acuan sebagai contoh bencana industrial berkelanjutan adalah kasus semburan dan banjir lumpur Lapindo di Sidoarjo. Pemerintah pusat menganggap segala persoalan yang diakibatkan oleh semburan dan banjir lumpur Lapindo akan selesai begitu saja seiring dengan lunasnya pembayaran ganti-rugi. Padahal, bencana industrial menuntut adanya suatu pendekatan yang melampaui skala paradigmatik, cara pandang dan bingkai kerja manajemen kebencanaan yang selama ini diterapkan.

Seri Diskusi Daring “Bencana Industrial dan Keadilan Sosial-Ekologis” ini bertujuan untuk mengambil momentum 15 tahun semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo (29 Mei 2006-29 Mei 2021) dengan merefleksikan beragam upaya warga terdampak menyintas bersamanya sebagai bahan pelajaran berharga tentang bagaimana kita mengelola sebuah bencana industrial demi mewujudkan keadilan sosial-ekologis. 


AGENDA


JUMAT, 26 MARET 2021, 15-17 WIB

Dimensi Sejarah dan Kelembagaan Bencana Industri: Sebuah Observasi Berjarak

  • Pembicara: Jonatan Lassa (Charles Darwin University, Australia)
  • Testimoni: Muhammad Irsyad (warga Besuki, Jabon)
  • Penanggap: Rere Christanto (Walhi Jatim)

Presentasi ini mengulas dimensi waktu dan evolusi kelembagaan bencana industri di dunia, termasuk Indonesia dalam 70 tahun terakhir. Pemateri akan mengulas rejim-rejim pengelolaan risiko terkait bencana industri dalam interaksinya dengan risiko-risiko yang beririsan baik terkait faktor alam maupun faktor keselamatan dan kecelakaan kerja; serta bagaimana ragam paradigma disiplin ilmu berkontribusi pada studi bencana industri baik dari sisi studi rekayasa (engineering), studi nuklir, geologi, kesehatan masyarakat, studi bencana dan malapetaka, hingga ilmu sosial dan humaniora.


SABTU, 27 MARET 2021, 13-15 WIB

Coping with Indonesia’s Mudflow Disaster

  • Speaker: Anto Mohsin (Northwestern University in Qatar)
  • Discussant: Pratama Yudha Pradheksa (Universitas Muhammadiyah Malang)

An ongoing mudflow catastrophe in Sidoarjo, Indonesia has submerged a vast area and displaced many villagers. This talk discusses the Indonesian mudflow disaster victims’ coping mechanisms to deal with their deteriorating situations. These strategies include making the best out of their refugee settlement at the Porong Market, calling the disaster the Lapindo Mudflow after the company deemed responsible, demanding compensations from the government and Lapindo, forming victim groups, commemorating the disaster annually, and writing their stories to fight a collective memory loss. In many of these activities they were helped by volunteer activists. One of them was the Kanal Newsroom, which was a media advocacy team setup to provide information for and train some victims to write, broadcast, and publish their stories online and in print. Voicing their conditions allowed some victims to create meanings out of their predicaments and put up resilient responses to the seemingly unending disaster.


JUMAT, 30 APRIL 2021, 15-17 WIB

Tantangan Pemulihan Mental Penyintas Lumpur Lapindo

  • Pembicara: Karolina Dalimunthe (Radboud University Nijmegen, Belanda)
  • Testimoni: Elsye Karundeng (warga Gedang, Porong)
  • Penanggap: Wahyu Eka Setyawan (Walhi Jatim) & Uli Arta Siagian (Yayasan Genesis, Bengkulu)

Saat bencana dijelaskan secara episodik, maka sering kali dipahami secara permukaan dengan didasarkan pada agen pembawa, temporalitas, durasi sehingga muncul peristilahan bencana industri, bencana serangan cepat, lambat, dll. Namun saat memasukkan kemampuan otoritas dalam menyikapi situasi krisis, maka insiden, bencana dan juga krisis berkelindan dan pada satuan waktu yang panjang, ketiganya dapat muncul secara serempak ataupun bergantian: bencana, insiden, dan krisis tak berkesudahan. Dalam situasi inilah manusia mendapat tentangan, sebagai pelaku maupun penyintas, karena nyatanya bencana, insiden dan krisis sangat terkait dengan ilusi kendali, terutama adanya kepercayaan diri yang berlebih akan kemampuan manusia untuk membendung risiko, katakanlah dari suatu pengeboran gas dengan mengandalkan ilmu dan teknologi. Dengan demikian, aman terkendali sebetulnya adalah konsekuensi yang dipertukarkan, akumulasi kapital nasional dengan bayaran kerusakan eko-sosial masyarakat lokal. Dalam konteks inilah pemulihan kondisi mental penyintas, sebagai pembayar konsekuensi, menjadi suatu hal yang pelik apalagi jika yang dipakai adalah pendekatan psikologi tradisional yang lebih mengandalkan modifikasi dan intervensi individual guna mengatasi permasalahan yang sebenarnya bersifat sistemik.

Sudah jelas bencana menghilangkan modal individual, rumah tangga, sosial dan budaya. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana hidup penyintas dalam kerentanan sosial dan lingkungan yang terus menerus terdegradasi? Istilah populer seperti “coping” dan “adaptasi” tidak cukup memadai untuk menjelaskan perihal di atas karena “coping” adalah modifikasi internal sistem individual sedangkan “adaptasi” relatif dilakukan pada kerangka situasi yang dianggap masih bisa “dikelola”. Jadi digeserlah pada penggunaan “kelenturan” (resilience) untuk bisa mengupas semua ini. Namun kehati-hatian perlu diterapkan dalam pemakaian konsep kelenturan yang belakangan semakin populer dan mulai dipakai oleh lembaga dunia dan negara, menggantikan wacana kesinambungan (sustainability). Konsep kelenturan ini disukai karena mengandung  solusi akhir yang positif. Singkatnya, meskipun krisis tidak secara serius ditanggapi dan diselesaikan, secara otomatis sistem atau entitas akan memperbaharui diri sendirinya. Untungnya, ada harapan bahwa konsep ini masih dapat dipakai selama diletakkan pada peta relasi kuasa dan menimbang konteksnya, semacam kerangka ekologikal, yang melibatkan berbagai unsur, bersifat  lapisan dan mengandung hubungan antar sistem ekologis sosial sehingga kelenturan haruslah mengarahkan pada adaptasi transformatif yang menyasar akar permasalahan dari suatu peradaban masyarakat yang korosif. Dengan demikian, pandangan yang kritis, lokal dan mengandung kerja praksis, termasuk jejaring kerja memberdayakan menjadi pilihan yang memberi secerca harapan di pekatnya awan gelap.  Lebih lanjut, ketika bicara mengenai lokalitas, maka tubuh yang meruang dalam keseharian akan menjadi benih ingatan (remember) yang lebih otentik dibanding mimpi birokrat. Ingatan ini yang berpotensi menjaga keberlangsungan hidup suatu komunitas sehingga harus tetap dihimpun dan diturunkan antar generasi sebagai bakal masukan (revolt) pada sistem dominan.


JUMAT, 28 MEI 2021, 19-21 WIB

Decolonizing Lapindo “Science”: Knowledge, Power and Legacies of Misinformation

  • Speaker: Phillip Drake (University of Kansas, Amerika Serikat)
  • Testimony: Suaigit (resident of Gedang, Porong)
  • Discussant: Judith E. Bosnak (Leiden University, Belanda)

This presentation surveys a series of influential studies by scientists affiliated with Lapindo Brantas, identifying a pattern of spreading misleading information about (1) what first triggered the Lapindo mudflow and (2) the mudflow’s social and ecological effects. These studies have been influential in shaping government responses to the disaster, from investigations to disaster management operations. And by promoting a narrative that shields Lapindo Brantas from responsibility, these studies also have undermined efforts by mudflow victims to receive justice and prevent unsafe energy mining in the future. Despite glaring flaws in many of these studies, many which will be outlined in this presentation, professional journals continue to publish these scientists’ reports, which raises broader questions about power and ethics within scientific institutions. I will conclude by asking whether it might be possible to decolonize Lapindo science, and consider what inquiry about geological, environmental, and human systems might look like outside of the hierarchies of power that often permeate mainstream global science. By paying closer attention to knowledge gathering activities of victims, residents, activists, and others who have touched by the disaster, alternative models of decolonized science might emerge to provide more accurate and nuanced information about disasters. Beyond advancing safety, equity, and resiliency among communities affected by the mudflow, these local scientific practices might provide lessons that could help vulnerable populations facing hazards throughout the world.


JUMAT, 25 JUNI 2021, 15-17 WIB

Dekolonisasi Cakap-Bencana: Portret Forensik, Jalan Cerita Tandingan

  • Pembicara: Hendro Sangkoyo (School of Democratic Economics, Indonesia)
  • Penanggap: Rita Padawangi (Singapore University of Social Sciences, Singapura)
  • Testimoni: Abdul Rokhim (warga Jabon, Sidoarjo)

Bencana adalah gejala, proses atau kejadian —bergantung pada bingkai ruangwaktunya— yang bertalian dengan hilangnya atau terputusnya keterpenuhan syarat-syarat keselamatan dari serombongan makhluk-hidup sebagai subyek penderitanya. Sampai hari ini, apa-apa yang bisa dan tidak bisa disebut bencana, kategorisasinya, genesis dan jejak-di-belakangnya, serta bagaimana memperlakukannya, merupakan domini otoritas politik/pengurusan-kenegaraan dan pengetahuan-resmi, keduanya berperan vital dalam pengawetan biopolitik se-Bumi. Dalam sistem dan praktik bertutur tersebut, kata-kerja mengerahkan, mengatasi dan mencegah, dalam urutan tersebut, ditempatkan dalam imajinasi rentang ruang-waktu bencana yang deterministik dan diperdebatkan. Di hadapan tafsir dan analitika dominan tersebut, ikhtisar ini hendak mengemukakan soal bencana sebagai bagian tak terpisahkan dari kondisi kehidupan si subyek di tengah krisis berdimensi ekologis dan kemanusiaan. Fokus pemeriksaan adalah pada dinamika gejala bencana dalam konteks urbanisme-industrial—moda metabolisme sosial dominan pada zona ruang dan masa hidup kita. Bertumpu terutama pada pemahaman dari proses belajar-bersama selama dua dekade belakangan, diskusi bertitik-berat pada duduk-perkara bencana, ragam jenis waktu dan jenis ruang dari gejala bencana, peran-peran sosial dan bagi-kerja dalam pengurusannya, serta transformasi ekonomistik dari cakap-bencana beserta politik-pengerahan yang menyertainya. Transformasi tersebut menyingkap jejak kepentingan kolonial, imperial maupun watak rasis dan patriarkis yang melekat padanya, termasuk dalam prinsip-prinsip tentang bagaimana derita dan si subyek penderita harus diperlakukan dan ditaksir nilainya.

Decolonising the Catastrophe Discourse: Forensic Portraiture, Competing Storylines

In this presentation I use the notion of catastrophe as a shorthand for a phenomenon, process or event —depending on its space-time framing— of the disappearance or interruption in the fulfilment of a set of salient wellbeing criteria of a group of living beings —including humans— as its subject of suffering. To date, the official convention of what does or does not fit to be called a disaster, its further classification, its genesis and tail ends, and how to address and deal with it, have all been the dominion of the political/statal and the knowledge authorities, both are instrumental to the maintenance of global biopolitics. Under such a discursive system and practice, the central predicates pertaining to catastrophe, namely, to mobilize, to cope with and to prevent, in that sequence, got placed within a deterministic and contested imagination of catastrophe’s space-time topology. Against the backdrop of such ruling interpretation and analytics, the present precis intends to advance the notion of catastrophe as part and parcel of the daily living condition under the social-ecological crisis. The scrutiny focuses on the dynamics of catastrophe phenomenon within the context of industrial-urbanism, the dominant mode of social-metabolism in our common life-time|space. Based particularly upon shared understandings from a sustained solidarity and social-learning work over the past two decades, the discussion shall gravitate around the nature of catastrophes, the divergence and conflation of chronotypes and spatiotypes of the phenomenon, social tropes and division of labor of its management, and the economistic transformation of the catastrophe-discourse in tandem with its attendant mobilisatory politics. Such a transformation reveals the fingerprints of colonial and imperial leitmotifs, as well as its oft revealing racist and patriarchal disposition, which manifest remarkably in the ground rules on how pain and the suffering subject under catastrophe should get treated and valorized.


DISELENGGARAKAN OLEH:

Kegiatan ini merupakan inisiatif kolaborasi antar-lembaga, yaitu: American Institute for Indonesian Studies (AIFIS); Kelompok Riset Lingkungan dan Bencana Sosial, FISIP, Universitas Brawijaya; Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan, Universitas Brawijaya; Magister Manajemen Bencana, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”, Yogyakarta; Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI); Jaringan Advokasi Tambang (JATAM); Sajogyo Institute; Tim Kerja Perempuan dan Tambang; Posko Keselamatan untuk Korban Lumpur Lapindo (Posko KKLuLa); dan, Perkumpulan Peneliti Eutenika.

%d bloggers like this: